Rabu, 30 November 2016

bukan cinta yang pernah ku tanam

Jam 9 pagi langit Mekkah biru terang. Matahari yang mulai meninggi memijarkan lidah-lidah api di petala langit. Angin langit berhembus sepoi-sepoi. Hawa panas menjajah angkasa, mencengkram apa saja yang berani menantang pijar alam. Pelataran Masjidil Haram yang berlapis marmer pualam putih memancarkan kilatan-kilatan menyilaukan seakan menantang panasnya matahari, sehingga siapapun yang memijaknya tidak akan merasa panas sedikitpun.
Di salah satu sudut masjid terlihat 2 orang pemuda yang sedang duduk dan khusyuk berdoa kepada Tuhannya. Mereka adalah 2 mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah di Ummul Qura. Sesekali di waktu senggang mereka menyempatkan untuk menyendiri di Masjidil Haram. Mereka selalu duduk disitu dan memohon kepada Rabb-nya setiap hari. Mereka yakin bahwasanya tanah haram adalah tanah yang diberkahi dan tempat diijabahnya segala doa.
Rayhan duduk dengan dada yang sesak dan air mata berkucuran seraya berdoa “Ya Allah.. Ya Rabbul ‘Aalamiin. Hamba adalah makhlukmu yang hina, makhlukmu yang selalu dikelilingi dengan dosa-dosa. Hamba malu kepada-Mu Ya Allah, Engkau selalu memberikan nikmat kepadaku dari jalan yang tak disangka-sangka. Tanpa peduli akan seberapa besar dosaku Engkau selalu mengasihiku. Ya Rabb seandainya hamba boleh meminta, hamba mohon kepada-Mu, berikanlah nikmat yang serupa kepada keluargaku, kepada Ibuku, Ayahku, dan adik-adikku yang saat ini sedang jauh dari pandanganku. Hamba memohon Ya Rabb persatukanlah kami di Surga kelak, sehingga kami dapat mengobati perpisahan sementara ini secara kekal di akhirat nanti.” Setiap hari doa ini selalu dipanjatkan oleh Rayhan tatkala dirinya sedang berada di Masjidil Haram.
Dari sebelahnya terdengar isak tangis yang tak kalah hebatnya, dengan tubuh yang gemetar dan hati yang menggebu-gebu Fahri menengadahkan tangannya, “Ya Rahman.. Ya Rahim.. Engkaulah Sang Mahabbah, Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba ingin bercerita kepadamu Ya Rabb. Cerita ini mungkin sudah Engkau ketahui karena sesungguhnya Engkaulah Sang pembuat Skenario. Tadi pagi Ayah hamba menelepon dan mengatakan bahwasanya dia menginginkan seorang cucu. Hamba bingung karena hamba belumlah menemukan jodoh yang Engkau pilihkan. Ya Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan, bukan cinta yang pernah kutanam. Tuhanku, sesungguhnya usiaku sudahlah mencukupi untuk merasakan sebuah cinta, seumur hidupku belum pernah aku mencoba untuk mencinta. Hamba memohon kepada-Mu Ya Rahim, tatkala nanti Engkau mempertemukan hamba dengan jodoh yang Engkau janjikan maka berikanlah hamba jodoh yang senantiasa mengabdi kepada-Mu, sehingga keluarga yang kami bina akan melahirkan generasi-generasi yang Qurrota A’yun, yang mampu menjadi penyejuk bagi siapa-siapa yang berada di sekitarnya.”
Rayhan dan Fahri adalah mahasiswa semester akhir di Fakultas Teknik dan Arsitektur Islam Universitas Ummul Qura, Mekkah. Mereka mempelajari ilmu teknik di Negeri Saudi dengan tujuan untuk hidup kaya raya dan mati masuk surga. Mereka ingin membantu agama Allah dari sisi yang jarang dilihat oleh para cendikiawan muslim. Mereka tidak ingin menjadikan dakwah sebagai mata pencaharian, tetapi mereka ingin menjadikan mata pencaharian sebagai media untuk berdakwah.
Setelah mereka menyelesaikan doanya masing-masing mereka biasa berjalan-jalan di sekitaran Masjidil Haram, menyaksikan indahnya islam dari kota kelahiran Rasulullah SAW. Di tengah perjalanan mereka melihat seorang gadis tengah berdiri sendirian menggunakan gamis berwarna silver dan hijab berwarna putih sedang menunggu datangnya taksi.
“Astaghfirullah, Rayhan coba lihat! Lihat gadis itu ingin naik taksi sendirian.”, Fahri dengan panik menarik Rayhan.
Sambil berlari karena ditarik Fahri Rayhan menjawab, “Allahu Akbar, Ayo segera kita ingatkan dia sebelum terlambat.”
Dengan nafas yang terengah-engah dan jantung yang berdegup kencang Rahyan dan Fahri berlari sekencang-kencangnya untuk mencegah hal yang buruk terjadi. Tanpa memperhatikan sekitar mereka berteriak “Yaa ukhti, laa tadzhab, laa tadzhab! (Saudariku, jangan pergi, jangan pergi!).”
Entah karena jarak yang begitu jauh atau suara ngos-ngosan karena berlari sang gadis jadi tidak mendengar teriakan dari Rayhan dan Fahri. Hingga datanglah sebuah taksi dan berhenti tepat di hadapan sang gadis, sang gadis langsung menaikinya sebelum Rayhan dan Fahri datang menghampirinya.
“Astaghfirullah kita terlambat”, seru Fahri.
“Belum, Allah pasti memudahkan kita. Kita masih bisa mengejarnya. Ayo kita naik taksi juga untuk mengejarnya.”, jawab Rayhan.
“Pak, saya ingin ke Jabal Thur”, ucap si gadis kepada supir taksi. Supir taksi memandanginya dari cermin yang ada di dalam taksi. Dipandanginya dengan tatapan seperti berburu mangsa. Dilihatnya hijab sang gadis yang masih tergolong belum Syar’i, hijabnya hanya dililitkan di lehernya sehingga menampakkan lekukan tubuhnya. Wajahnya yang juga cantik menjadikan mata sang supir taksi membelalak menatap penuh nafsu.
Setelah jauh berjalan lama-kelamaan jalanan yang dilalui semakin sepi dan menyempit, hati sang gadis mulai risau dan bertanya “Pak memang benar ini jalannya? Kok sepi gini? Seharusnya kan ramai yang berwisata kesana.” Sang supir taksi hanya diam dan terus menjalankan taksinya sambil menunjukkan senyum kecil dari bibirnya.
Di lain sisi ternyata taksi yang ditumpangi oleh Rayhan dan Fahri terus mengikuti taksi sang gadis. “Kan benar yang kita sangkakan, taksi itu pasti ingin berbuat jahat. Pak ayo bawa lebih cepat, tolong salip taksi di depan agar kita bisa menghentikannya”, teriak Fahri. Tapi secepat apapun taksinya tidak akan mampu menyalip karena jalanan yang dilalui sangatlah sempit.
Sampai tiba saatnya suasana semakin mencekam, sang gadis sudah kebingungan tidak kepalang karena tiba-tiba mendengar suara klakson yang berulang-ulang dari belakang dan taksi yang ditumpanginya semakin melaju kencang. “Ada apa ini? Ibu, ibu, tolong aku bu”, gumam sang gadis sambil mengeluarkan handphonenya dan mencoba untuk menelepon sang ibu. Tapi percuma saja sinyal di daerah tersebut sangat terbatas.
Sang gadis menangis dan mencoba untuk membuka pintu tapi pintu taksi sudah dikunci otomatis dari panel kunci sang supir. “Stop.. Stop.. Please stop!”, Teriak sang gadis kepada supir.
Dengan gesit disaat ada sedikit celah, taksi yang ditumpangi Rayhan dan Fahri langsung menyalip taksi sang gadis dan berhenti di depannya. “Ibuuuu”, teriak sang gadis. Guncangan karena rem mendadak pun tak terelakkan. Tubuh sang gadis sedikit terbentur ke jok depan dan handphone yang dari tadi dipegangnya terjatuh ke bawah. Dia langsung menangis dan turun dari taksi tersebut. Fahri langsung menghampirinya seraya berkata,
“A Anti Annaka Bikhair?”, Tanya Fahri.
“Apa? Apa katamu? Can you speak English?”, jawab sang gadis bingung.
“Masya Allah, kamu dari Indonesia?”, Tanya Fahri.
Setelah mengobrol panjang lebar ternyata sang gadis bernama Nabila. Dia adalah jamaah umroh asal Indonesia.
“Alhamdulillah Allah masih melindungi kamu. Jangan pernah bepergian sendirian menggunakan taksi disini. Karena supir-supir taksi disini bukan orang asli dari Saudi. Banyak sekali kasus kejahatan terjadi di taksi. Beberapa waktu lalu ada seorang wanita yang ditemukan tewas di tengah gurun pasir dengan pakaian yang sudah compang-camping. Dia meninggal diperk*sa dan dibunuh oleh supir taksi karena naik taksi sendirian.”, ucap Fahri.
“Akhi, supir taksinya sudah aman kuurus, aku sudah telepon polisi Mekkah”, ujar Rayhan sambil memegangi sang supir nakal.
Setelah polisi datang sang supir langsung diamankan dan Nabila pulang diantar oleh polisi. Sebelumnya Nabila sempat bertukaran nomor telepon karena meminta tolong kepada Fahri untuk dapat menemui ibu dan ustadz pembimbing umrohnya besok.
Rayhan dan Fahri pun pulang ke asramanya menggunakan taksi yang tadi. Di perjalanan Rayhan dan Fahri terus-terusan bercerita tentang aksi heroik yang baru saja mereka lakukan tadi. Ditengah perbincangan Fahri mengatakan,
“Ya akhi, sepertinya aku tertarik dengan wanita tadi. Bagaimana menurutmu? Apa yang harus kulakukan?”, ucap Fahri dengan wajah yang serius. Rayhan yang sudah menyangka dari tadi dengan senyum menjawab,
“Haha aku sudah menebaknya. Kawan, suatu ketika kita pernah jatuh hati, memendam rasa, atau suka pada seseorang yang kita kagumi. Namun, banyak sekali yang salah mengekspresikan cinta hingga ia perdaya dengan cintanya.”
“Sebenarnya dia bukan idamanku, tapi entah mengapa aku merasa hal itu sudah tidak jadi masalah”, jawab Fahri.
“Sahabatku, marilah kita alihkan energi cinta kita, bukan untuk melihat, bukan hanya untuk memikirkan bahwa dirinya lah yang terbaik bagi kita. Namun untuk mempersiapkan sehingga suatu kelak Allah telah berikan pada kita 1 yang tepat untuk diri kita, kita akan komitmen dengan dirinya.”, nasihat Rayhan.
Setelah mendengar nasihat dari Rayhan Fahri langsung terdiam dan menunduk, dia berpikir dalam-dalam tentang perasaan dan isi hatinya. Lalu dengan seketika Fahri mengangkat kepalanya, mencengkram bahu Rayhan dengan kuat lalu berkata, “Oke, insyaallah kita temui ibunya besok. Temani aku.”
“Aduh, sakit akhi hahaha.” Rayhan tertawa bahagia karena sebentar lagi sahabatnya akan menggapai doanya walaupun bahunya terasa sakit karena cengkraman yang kuat dari Fahri.
Keesokan harinya Fahri dan Rayhan mendatangi Tharawat Al Shesha Hotel tempat menginap Nabila yang alamatnya dikirimkan melalui SMS tadi malam. Tempat itu cukup jauh dari Asrama tapi mereka tidak tersesat karena sudah mengenali wilayah di sekitar Mekkah.
Setelah sekian lama menempuh perjalanan menaiki bis akhirnya mereka sampai di depan hotel dan sang ustadz pembimbing rombongan umroh pun turun bersama Nabila dan ibunya. Mereka mengobrol di lobby hotel. Ustadz dan ibu Nabila merasa berterima kasih karena Rayhan dan Fahri sudah menyelamatkan Nabila kemarin.
Sudah hampir satu jam mereka mengobrol tiba-tiba ibu Nabila berkata, “Nak, mohon maaf karena saya lancang mengatakan ini. Tapi setelah kita berbincang saat ini ibu melihat keluasan ilmu serta ketawadhu’an yang kalian berdua miliki. Apalagi kalian juga berasal dari Indonesia. Ibu sangat ingin menjodohkan putri ibu dengan salah satu dari kalian. Apakah ada dari kalian yang bersedia membimbing anak ibu menuju surganya Allah?”
Rayhan dan Fahri saling bertatapan. Mereka sangat terkejut mendengar pernyataan dari ibu Nabila tersebut, khususnya Fahri dia sangat terkejut. Fahri memang memiliki rasa terhadap Nabila tapi dia tidak menyangka jalannya akan semudah ini.
Dengan gagah Rayhan menatap wajah ibunya Nabila dan berkata, “Alhamdulilah terima kasih atas pujian yang ibu alamatkan kepada kami. Sebenarnya sahabat saya sudah memiliki rasa kepada anak ibu sejak bertemu kemarin. Kedatangan kami kesini juga sekaligus untuk mengkhitbah anak ibu. Alhamdulillah ternyata Allah memudahkan jalan kita. Kalaulah ada yang pantas untuk menikahi anak ibu di antara kami berdua maka jawabannya adalah Fahri, sahabat saya.”
Sang ibu pun menerima khitbah dari Fahri dan ustadz serta Nabila sendiri pun mengiyakan. Fahri langsung merasa senang tak kepalang sampai-sampai dia menelepon orangtuanya di Indonesia dan ayahnya pun merestui. Mereka langsung menentukan jadwal pernikahan dan menyesuaikan dengan jadwal kepulangan Fahri ke Indonesia.
Selanjutnya semua rencana pernikahan dilakukan oleh keluarga Fahri dan keluarga Nabila di Indonesia. Beberapa bulan kemudian Fahri pulang ke Indonesia dan melangsungkan pernikahannya di rumah Fahri. Semua berjalan begitu saja sesuai rencana Allah. Mereka tidak pernah berpacaran sebelum ataupun sesudah berkenalan itu. Mereka berpacaran secara halal setelah melangsungkan pernikahan, Ya! mereka berpacaran dalam pernikahan.
Inilah cinta yang dikirimkan Allah bukan dari cinta yang pernah ditanam oleh Fahri maupun Nabila. Mereka tak pernah menyangka akan pertemuan ini. Fahri hanya meminta kepada Allah dan Allah pun mengabulkannya. Betapa indah jalan yang digariskan Allah kalau kita percaya kepada-Nya. Mereka pun menjalani cintanya kekal sampai ke surga.

tak sehangat senja

Suara alunan mengaji dari masjid terdengar ke seluruh penjuru jalan yang ada di sekitarnya. Sementara rumah berlantai 2 dalam gang, terdapat gadis remaja. Terlihat ia di sebuah kamar berjendela kepalanya melongok ke luar. Mengintip ke arah jalan raya. Seperti menunggu seseorang. Namun pada bulan suci ini seharusnya ia turut mengaji bersama teman-temannya di masjid. Menyeruakkan suara indah dengan bacaan-bacaan ayat suci. Pada waktu menjelang senja ini, apalah yang akan ditunggu gadis tersebut? Kepalanya terus melongok ke luar jendela. Mungkin sudah tiga kali dalam dua menit.
Tak sabar, pada akhirnya ia memainkan ponsel yang sedari tadi menemaninya memandangi ke luar jendela dalam genggaman. Ia mulai menghubungi seseorang. Dialah sosok istimewa yang ditunggu. Dan suara lelaki kian berat keluar dari ponsel. Gadis itu mulai mencercah. Sudah sejak satu jam yang lalu ia menunggu. Tak datang juga. Tak ada jejak sepercik pun lelaki itu datang menjemput. Sampai suara berat menjelaskan…
“Arina, ini merupakan bulan suci. Tak sepatutnya kita duduk berimpit di kursi taman alun-alun kota melihat senja, sedangkan masjid di dekat kita menggelar pengajian.”
“Aku tak mau tahu. Kamu sudah berjanji akan menjemputku setiap sabtu sore untuk melihat senja di alun-alun kota. Sekarang kamu sedang apa dan dimana?”
“Sekarang aku berada di masjid. Begitu sibuk. Maafkan aku. Untuk Ramadhan ini tidak bisa memenuhi janji tersebut. Cukup untuk ramadhan ini.”
“Bohong! Cepat jemput aku. Aku ingin melihat senja.” Gadis itu merengek. Mengumpat-umpat kekasih sholehnya.
“Lihat saja senja di jendela rumahmu!” lelaki itu membentak dan menutup ponselnya dengan kasar. Ia melanjutkan aktivitasnya.
Di pelataran masjid, lelaki berbalut peci dan takwo putih serta sarung hitam kembali ke dalam masjid. Menyimak remaja perempuan yang mendapat giliran membaca Al quran dengan mikrofon. Sedangkan teman—teman sesama remaja masjid memandang penuh tanya.
“Anwar, Siapa tadi yang meneleponmu?” tanya lelaki di sebelahnya membuat Anwar menoleh menghentikan simakannya sejenak.
“Arina. Ingin melihat senja.”
“Putuskan saja War,… dia perempuan tak tahu agama. Berbeda denganmu yang shaleh. Dia selalu mengajak bermaksiat. Apa kau tak merasa malu?” dan kalimat-kalimat lain timbul begitu saja dari mulut lelaki-lelaki itu. Membuat Anwar terdiam dan berpikir.
Memanglah itu sangat benar. Sudah berapa kali Arina menawarkan tangannya untuk digenggam? Sudah berapa kali Arina menyita waktu salatnya untuk bercumbu mesra atau telepon yang sangat lama? Namun, Anwar begitu menyayangi Arina. Begitu pula sebaliknya. ‘Dalam usia kalian yang masih bersekolah SMP bukanlah waktu yang tepat.’ Kalimat itu terngiang-ngiang dalam benaknya. ‘Ingat War, kamu ketua dalam remaja masjid ini. Haruslah mencontohkan yang baik!’ lagi. Apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki ego Arina? Ia tak ingin hubungannya berakhir.
“Arina, aku akan menjemputmu.” Anwar beranjak dari tempat duduknya. Amat cepat dengan meminta izin pada para lelaki itu. Langkahnya begitu terburu-buru dan segera menaiki sepeda motornya. Para lelaki yang dimintai izin berteriak. Menjelaskan bahwa ustadz tidak datang dan ialah pengganti untuk pengajian sore ini. Temannya mengucap sumpah serapah. Untuk apa memperjuangkan perempuan tak tahu agama? Sampai terbatuk mereka meneriaki si Anwar. Salah satu remaja masjid putri berkata. “Sudahlah mas, namanya juga sayang.” Lelaki-lelaki ini hanya mendesis. Meminta perempuan saja yang mengaji. Mereka menunggu di serambi hingga sesi pengajian di buka. Merasa tak bergairah jika ketuanya saja tak hadir.
Disamping itu, Anwar sudah berdiri dengan sepeda motornya di depan rumah megah Arina. Ia mulai menghubungi gadis itu untuk segera turun dan menghampiri lelaki yang menunggu. Sontak Arina berteriak memanggil nama Anwar dengan wajah yang berubah 180 derajat. Tadinya manyun sekarang berganti tersenyum penuh keceriaan. Dia segera menutup pagar rumah dan menaiki motor Anwar. Reflek, memeluk Anwar yang memboncengnya.
“Kenapa kamu mengenakan pakaian ini?” tanya Arina. Sedangkan Arina sendiri mengenakan dress lengan pendek dan beberapa senti di atas lutut. Memanglah sederhana.
“Sudahlah. Hatimu akan menjadi hangat Arina.”
“Ya. Dengan melihat senja bersamamu.” Arina tersenyum. Ia terus memeluk erat pinggang Anwar. Namun lelaki itu sama sekali tak merasa risih.
Hingga tiba di sebuah alun-alun kota yang bertempat dekat masjid agung. Mereka berdua duduk di bangku taman berimpitan. Telapak tangan Arina menyentuh paha Anwar yang dilapisi sarung hitam. Lelaki itu hanya diam mengelus lembut rambut kekaasihnya. Ia melihat jam tangannya. Sudah pukul 17.00. Pengajian masjid akan segera dimulai. Anwar beranjak dari tempat duduknya dan mencengkeram bahu Arina.
“Arina, aku ingin ke masjid. Jika aku tak kunjung datang dan mentari senja tiba, kamu hampiri saja.” Anwar segera berlari menuju masjid. Di samping itu Arina memasang wajah blo’onnya. Bingung dengan tingkah Anwar yang tergesa-gesa. Dan lelaki yang berlari itu mendapati temannya duduk di serambi dengan muka kusut. Sementara masjid sudah penuh dengan jamaah yang siap mendengarkan ceramah. Takjil juga sudah disiapkan. Tetapi tak ada yang berdiri di mimbar.
“Kencan kamu bentar banget War?” tanya salah satu lelaki berwajah kusut tersebut.
“Ah, sudahlah. Sekarang ayo kita ke depan.”
“Memangnya kamu sudah mempersiapkan? Nggak ada kitab, nggak ada kertas, nggak ada apapun. Mau kasih tema apa?”
“Ada di hp ku. Temanya tentang hubungan lelaki dan wanita pada bulan suci.” Semua mata terbelalak. Salah satunya mengancam, “Jangan malu-maluin.” Anwar hanya mengangguk dan segera maju ke mimbar. Diikuti teman-temannya yang duduk di barisan terdepan sebagai pendamping.
15 menit berlalu. Cakrawala kemerahan. Mulut Arina kembali manyun menunggu kekasihnya yang tak kunjung kembali. Gadis ini berjanji akan mencercanya dengan sejumlah kata-kata jika bertemu nanti. Ia akhirnya menghampiri Anwar. Perlahan melangkah mendekati masjid, suara orang berceramah semakin menelusup telinganya. Sungguh indah kata-kata yang terdengar. Pesan moralnya pun disampaikan dengan rinci. Suara lelaki yang menyeruakkan ini begitu lantang. Semakin ke dalam memasuki masjid ia menajamkan penglihatannya. Dalam berdiri, gadis menggunakan dress pendek ini hampir menitikkan air mata. Kedua tangannya menutupi mulut yang ternganga. Meleleh hati gadis tersebut mendapati kekasihnyalah seseorang yang berdakwah.
“Gadis di belakang sana.” Lelaki di mimbar dengan pengeras suara yang digenggam menunjuk tegas ke arah Arina. Membuat seluruh kepala berputar ke belakang. Mata Arina yang berembun tak berkedip. “Ya kamu. Duduklah. Bergabunglah disini dengan mendengarkan pemuda ini. Hangatkanlah hatimu. Ini tidak sehangat senja yang kau harapkan. Namun, di bulan suci inilah sesuatu yang menghangatkan hatimu lebih dari senja.” Kata-kata itu membuat seluruh jamaah takzim. Arina terduduk dengan kepala tertunduk. Ia amat malu.
Penampilannya yang begitu berbeda dengan jamaah lainnya. Ia malu memiliki kekasih yang sholeh sementara ia urakan. Ia malu telah memarahi Anwar dengan sejumlah kata-kata yang jelas-jelas Anwar lebih berpendidikan. Ia malu telah memilih senja daripada melihat kekasihnya berdakwah di masjid. Amat menyesal. Dan inilah sebab mengapa kekasihnya tak pernah ingin menyentuhnya. Ia tahu, sayang Anwar mungkin lebih besar darinya. Lelaki itu ingin yang terbaik untuknya. Bukan seperti Arina sendiri yang memberi pilihan buruk pada Anwar.

pilihan

Dia Derajat. Sudah 5 tahun aku mengenalnya. Tidak terlalu dekat, hanya sekedar tahu saja. Kemarin dia datang ke rumah bersama keluarganya dengan sebuah niat yang sangat aku hargai. Aku bisa melihat keseriusan di dalam matanya ketika mengutarakan maksud kedatangannya malam itu. Dia melamarku.
Dia Hendra. Baru seminggu yang lalu aku bertemu dengannya. Kami saling berbalas pesan sejak saat itu. Tadi dia meneleponku, mengatakan sesuatu yang membuatku berbunga-bunga. Dia ingin datang ke rumah minggu depan. Bersama keluarganya. Dia akan melamarku.
Dia Lutfi. Baru kemarin aku bertemu dengannya, dikenalkan oleh Ibu. Kedua orangtuaku menjodohkanku dengannya. Dia orang yang taat agama, katanya. Tidak ingin pacaran, ingin menjalin hubungan yang benar di mata Tuhan saja. Dia menyetujui keinginan kedua orangtuaku untuk melamarku.
“Kamu terima lamaran Derajat?” Tanya Fiah, sahabatku.
“Aku minta waktu untuk berpikir. Ayah juga sudah mengatakan dengan hati-hati pada mereka kalau aku akan dijodohkan dengan anak temannya.” Aku menyeruput teh hangat yang Fiah buatkan untukku.
“Kamu sudah berpikir?”
“Aku sudah sholat istikharah.”
“Lalu?”
“Hm.” Aku menggeleng dan membenarkan posisi kerudungku. “Masih buntu.”
“Belum waktunya saja. Nanti pasti datang petunjuk.” Fiah mengelus lenganku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Usia yang hampir kepala tiga membuat kedua orangtuaku terus saja mendesak agar aku segera menikah. Aku punya beberapa teman lelaki, hanya saja tidak ada di antara mereka yang menurutku bisa dijadikan suami. Dunia malam masih menjadi favorit mereka sedangkan aku berharap mempunyai pendamping yang bisa menuntunku menuju akhirat dengan selamat.
Dalam waktu yang berdekatan, mereka bertiga tiba-tiba datang. Aku benci mengakui kalau aku telah terlibat dalam kegundahan karena masalah hati. Tapi itu faktanya. Ada Derajat, Hendra dan Lutfi. Kenapa aku harus memilih di saat aku dengan tangan terbuka menerima siapapun yang siap melamarku. Aku rasa Tuhan menjawab doaku, Ibu dan Ayah secara serempak. Aku didatangkan tiga pria dengan niat menghalalkanku dalam satu waktu sekaligus.
“Aku malah mau kenalkan kamu sama teman Mas Heru. Eh sudah duluan dilamar ternyata.” Fiah terkekeh. Aku menatapnya terkejut.
“Sudah dua tahun aku mengeluh tentang keluhan orangtuaku, baru sekarang kamu mau kenalkan aku sama teman suamimu.”
“Baru ketemu sekarang, Ziya, orang yang memenuhi kriteria suami yang baik untuk kamu. Aku tidak akan sembarangan mengenalkan laki-laki dengan kamu.” Aku tertawa mendengar penuturan Fiah.
Aku tidak punya kriteria seorang suami. Soal iman dan taqwa itu sudah menjadi syarat dari agama. Lalu kenapa aku masih sendiri hingga sekarang? Bisa dikatakan bahwa aku wanita yang mandiri. Terlalu mandiri, menurut sahabatku. Kemandirianku membuat laki-laki kebingungan untuk mendekatiku. Mereka tidak bisa menemukan celah untuk menjadi seorang penyempurna. Selain itu, banyak dari mereka hanya sekedar penasaran saja. Setelah tahu aku hanya ingin menjalin hubungan yang halal, mereka mulai menjauh. Tuhan tunjukkan betapa tidak bertanggungjawabnya mereka sebagai laki-laki. Ingin memiliki yang bukan haknya dengan memberi label hasil ciptaan manusia itu sendiri.
Sampai hari itu Derajat menghubungiku. Dia menanyakan kabar dan aku jawab sekenanya. Dia menanyai statusku yang aku jawab dengan jujur. Tanpa nada pongah dia menjelaskan padaku bahwa dia sudah menjadi lelaki yang mapan. Pendidikannya juga tinggi, tidak kalah denganku. Aku tahu dia mencoba menunjukkan padaku bahwa dia sudah siap menjadi seorang suami. Dia tidak hanya asal main lamar anak orang begitu saja tanpa bisa mempertanggungjawabkan kehidupan wanita yang menjadi istrinya itu kelak.
“Jadi, bagaimana tanggapan bapak dan ibu dengan lamaran saya?” Dengan penuh percaya diri dia menatap kedua orangtuaku malam itu.
“Kami serahkan keputusannya pada putri kami. Ziya sudah dewasa untuk bisa menentukan apa yang baik untuk dirinya.” Begitu kata Ayah.
“Bagaimana, nak?” Lelaki yang aku ketahui sebagai paman Derajat bertanya padaku yang hanya menundukkan kepala. Bukan bermaksud tidak sopan, aku hanya tidak ingin mereka membaca emosiku yang sebenarnya.
“Sa-saya… butuh waktu.” Tiga kata yang paling sulit aku utarakan seumur hidupku. Aku tidak ingin keluarga Derajat menganggapku sebagai wanita yang sok jual mahal. Sudah syukur mereka merestui anak mereka untuk menikahi perawan tua sepertiku. Memberikan jawaban ‘ya’ pasti akan lebih mudah kalau saja aku belum bertemu Hendra saat itu.
Hendra Kurnia merupakan salah seorang dosen Fakultas Keguruan di Universitas yang sama tempatku mengajar. Kami bertemu dalam kebetulan yang klise. Nyaris persis dengan rangkaian kejadian pertemuan antara dua sejoli yang kubaca dari novel-novel romance atau yang kutonton dari FTV yang tiap hari tayang. Pagi itu, di perputakaan Universitas, kami memilih buku yang sama.
Tujuanku datang ke perpustakaan untuk menyerahkan hardcopy dan softcopy paper penelitianku. Iseng-iseng menunggu petugas administrasi menginput data ke dalam sistem, aku berjalan menuju rak buku-buku fiksi. Aku telusuri satu per satu buku dengan jari-jariku. Belum ada judul ataupun penulisnya yang menarik perhatianku. Selain sebagian besar sudah pernah kubaca semasa SMP dan SMA, kebanyakan dari buku-buku itu adalah fiksi bertema kolosal yang tidak begitu aku sukai. Hingga mataku menangkap nama Arifin C Noer dengan karyanya berjudul Sumur Tanpa Dasar. Buku itu selalu dibicarakan oleh guru Bahasa Indonesia dulu semasa SMA, tapi aku belum pernah membacanya.
Saat aku akan menarik buku itu dari sesakan buku-bukan yang lain, sebuah tangan mendahuluiku. Aku terkejut dan spontan mundur ke belakang hingga menabrak rak yang ada di belakangku.
“Maaf.” Ucap sang pemilik tangan. Dia melihatku dengan tatapan khawatir karena selain punggungku yang menabrak rak, kepalaku juga terhantuk pada tiang besi rak.
“Saya tidak apa-apa.” Jawabku berdusta karena kepalaku sungguh nyut-nyutan rasanya waktu itu.
“Anda mau meminjam buku ini?” tanyanya menunduk memandangi buku yang ada di tangannya.
“Tidak.” Aku berdusta lagi dan tanpa sadar mengelus kepalaku.
“Sakit?” Dia benar-benar terlihat peduli dan hal itu membuatku gelagapan.
“Tidak apa-apa.” Sudah berapa kali aku berbohong kepadanya.
“Saya Hendra.” Dia langsung memperkenalkan diri. Suaranya yang begitu tegas serasi dengan tubuhnya yang tegap dan parasnya yang rupawan. “Dosen Bahasa Indonesia dan Sastra.” Lanjutnya tanpa mengulurkan tangan. Kemudian dia diam, membuatku mengira dia menungguku memperkenalkan diri.
“Sa-saya Ziya.” Tatapannya yang penuh percaya diri membuatku merasa terintimidasi. “Saya juga dosen, Fakultas Ekonomi.” Dia tersenyum. Membuat kakiku serasa berubah menjadi jeli.
Aku tahu ini salah. Berdekatan dan bertatapan dengan lawan jenis seintens itu bukanlah suatu kebiasaan bagiku. Aku harus menjaga mataku dan juga hatiku dari harapan-harapan yang salah. Mungkin itu juga salah satu sebab aku belum menikah hingga sekarang. Tapi bagiku mendapatkan suami dengan perbuatan dosa sama saja dengan merendahkan diriku sendiri. Untuk mendapatkan pasangan yang baik, aku harus melakukannya dengan cara yang benar.
“Keberatan kalau kita mengobrol sebentar di tempat ramai?” pertanyaan yang keluar dari mulutnya membuatku tersadar kami berada di lorong yang sepi. Karya-karya sastra memang jarang jadi lirikan para mahasiswa, karena itulah rak-rak buku ini kekurangan sentuhan tangan pembaca.
Kami berjalan menuju meja diskusi yang berada tepat di tengah-tengah ruangan. Meja itu penuh dengan para mahasiswa yang bekerja dengan laptopnya. Hanya menyisakan dua kursi yang saling berhadapan. Di sana kami duduk. Dia yang memulai percakapan, bertanya sekali lagi tentang kepalaku. Kemudian pembahasan berlanjut dengan dia menceritakan sebagian besar isi novel sastra itu, yang hampir semuanya sebenarnya sudah kuketahui. Namun aku tetap menyimaknya dengan penuh perhatian.
“Kamu sudah menikah, Ziya?” Pertanyaan itu terlontar sesaat setelah kami membahas mengenai tempat tinggal. Segala sesuatu yang kami bahas mengalir begitu saja seolah aku bertemu dengan teman lama yang saling menumpahkan segunung kisah yang terjadi selama kami berpisah.
Aku tidak langsung menjawab. Entah apa yang menahanku saat itu. Mungkin aku hanya ingin hatiku terhindar dari perasaan berharap ada maksud lain di balik keingintahuannya itu.
“Belum.” Kataku.
“Berapa umurmu?”
“29 tahun.”
“Boleh saya minta nomor hp kamu?” Kami saling bertukar nomor. Dan sejak saat itu, komunikasi di antara kami terjalin. Tidak kirim mengirim pesan basa basi. Keseringan dia menanyakan pendapatku tentang berbagai hal. Mulai dari siapa narasumber yang tepat diundang ke dalam seminar yang diadakan Fakultasnya, atau bertanya situs online tempat membeli buku. Sampai waktu itu dia meneleponku.
“Ziya, kamu sudah siap?” aku mengangguk lesu saat Ibu bertanya. “Dia laki-laki baik. Tidak mungkin ibu dan ayah mengenalkan kamu sama orang yang tidak jelas bibit bobotnya.”
“Iya Ibu. Ini aku mau pergi, kan? Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak mau pergi.”
Malam ini keluargaku diundang oleh keluarga Lutfi untuk makan malam bersama. Kalau boleh jujur, semenjak mendengar keinginan Hendra untuk melamarku, keinginanku untuk diperkenalkan dengan laki-laki asing semakin menguap. Sudah cukup rasanya kedatangan Derajat membuatku gundah gulana.
Telepon genggamku berbunyi, menampilkan nama Derajat pada layarnya. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Derajat padaku, dan aku sudah punya jawaban untuk menjawabnya dengan mengatakan aku belum bisa menjawab.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Suara di seberang sana menjawab. “Apa kabar, Ziya?” Basa-basi yang dia lakukan justru membuatku semakin gugup.
“Alhamdulillah baik. Ada apa, Derajat?” Tanyaku dengan suara lembut. Aku tidak ingin dia mengira aku tidak mengharapkan telepon darinya meskipun begitu adanya.
“Aku cuma mau tanya, kapan aku bisa datang ke rumah kamu lagi, melanjutkan yang kemarin?” Sudah kuduga.
“Aku belum bisa menjawab, Derajat. Maaf. Aku bukannya menjadi wanita sok pemilih dan jual mahal. Aku masih menunggu petunjuk dari Allah apakah keputusan yang akan kuambil nanti adalah keputusan yang tepat.” Aku mendengar helaan nafas berat di sana.
“Baiklah. Besok aku akan telepon lagi. Kamu tidak keberatan, kan?” sebenarnya iya.
“Tidak. Tidak masalah.” Panggilan itu akhirnya berakhir dengan ucapan salam.
Meski kedua orangtuaku tidak mengatakan apapun, aku tahu mereka tidak begitu berharap aku menerima lamaran dari Derajat. Selain karena alasan perjodohanku dengan Lutfi, menurutku ibu menyimpan perasaan tidak yakin pada Derajat. Aku tahu begitu karena ibu tidak hentinya bertanya tentang bagaimana aku bisa mengenal Derajat,
“Kamu saja yang turun ya. Beli kue dan buah secukupnya saja. Ibu yakin mereka sudah menyiapkan semua. Cuma tidak enak kalau datang dengan tangan kosong.” Aku mengangguk kemudian turun dari mobil yang diparkir ayah di depan swalayan.
Aku sempat kebingungan memilih beberapa dari sekian banyak kue yang ada. Aku bahkan tidak tahu berapa banyak yang harus kubeli karena aku tidak tahu berapa jumlah anggota keluarga Lutfi. Mungkin dua kotak kue bolu gulung sudah cukup.
“Mama aku suka kue ini, mas.” Aku mendengar suara wanita berbicara dengan nada manja di belakangku. Tangannya mengambil sekotak kue kemudian berjalan ke arah berlawanan denganku. Tapi tunggu dulu, dua kotak rasanya terlalu sedikit.
Aku kembali berjalan mengambil kue bolu gulung dan melihat punggung wanita tadi berjalan menjauh. Dia tidak sendiri. Ada lelaki di sampingnya yang menggandeng tangannya dengan protektif. Sepertinya wanita itu mengatakan hal lucu karena aku lihat bahu mereka bergoncang dan lelaki itu menoleh ke arah wanita.
Deg.
Aku mengenal wajah itu. Laki-laki yang kini merangkul mesra wanitanya itu adalah Derajat. Aku tidak mengenal wanita berpakaian seksi itu tapi aku yakin dia bukan saudara perempuan Derajat. Ya Tuhan, apa ini petunjukmu?
Setelah memilih buah-buahan, aku langsung berjalan ke kasir. Dengan terburu-buru mengeluarkan dompetku hingga uang recehku berjatuhan. Saat aku berjongkok untuk memungutnya, ada tangan lain yang membantuku.
“Ziya?” Derajat nyaris menjerit histeris ketika melihatku. Wanita tadi berdiri tepat di belakangnya.
“Aku rasa kamu sudah tahu jawaban untuk lamaran kamu.” Kataku datar, kemudian membayar dan pergi dengan langkah pasti.
Keluarga Lutfi begitu ramah. Ibundanya menyambut kedatangan kami dengan hangat. Ayahandanya juga tidak kalah baik. Beliau begitu humoris dan dalam waktu singkat suasana langsung mencair. Namun tidak dengan Lutfi. Melihat ke arahku saja tidak. Dia sangat pendiam dan tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Pantas saja dia belum menikah. Dingin begitu.
“Sudah berapa lama kamu menjadi dosen, nak?” tanya Ibunda Lutfi.
“Baru dua tahun, tante. Sebelumnya saya jadi asisten dosen dulu selama satu tahun.”
“Kamu mengajar apa?”
“Ekonomi.”
“Oh. Bagus. Lutfi juga punya yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Ada sekolah kejuruan juga. Mungkin kamu bisa mengajar di sana, bahkan jadi pengurusnya nanti.” Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibunda Lutfi yang begitu antusias. Hal itu tentunya hanya akan terjadi jika aku menjadi isteri Lutfi.
Namun kelihatannya Lutfi sama sekali tidak tertarik padaku. Dari awal kami datang hingga akhirnya pulang, dia tidak ada berkata sepatah katapun padaku. Hanya pada ayah dan ibu, itu pun sekedar menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Aku rasa kedua orangtua tidak akan memaksakan perjodohan ini lagi padaku setelah melihat reaksi Lutfi.
“Sepertinya dia tidak menyukaiku, ya?” aku memulai pembicaraan saat kami di tengah perjalanan pulang.
“Kata siapa? Lutfi memang begitu. Menjadi pemalu kalau bertemu dengan wanita yang bukan mahramnya.” Jawab ibu.
“Dia juga tidak bilang kalau dia menyukaiku, kan?”
“Karena dia laki-laki yang baik dan soleh, Ziya. Dia akan mulai menyukai kamu ketika kalian sudah menikah.” Aku tidak akan lagi mendebat ibu. Sepertinya ibu sudah begitu tersihir dengan pesona Lutfi.
“Aku menolak lamaran Derajat.” Kataku setelah beberapa selang keadaan di dalam mobil diselimuti sunyi.
“Kenapa?” ada nada keterkejutan dalam suara ibu.
“Aku sudah yakin dengan keputusanku, bu. Tapi bukan berarti aku sudah memutuskan masalah perjodohan dengan Lutfi ini. Ada seseorang yang akan datang melamarku. Dan aku menyukai dia.”
Rombongan keluarga Hendra datang dua hari kemudian. Tidak begitu ramai, hanya sekitar delapan orang saja. Seorang lelaki memperkenalkan dirinya sebagai ayahanda Hendra. Dia menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereke ke kediamanku dan orangtuaku.
“Bapak, Ibu dan Ziya sudah mendengar tujuan kami datang ke mari. Sebelum kami menerima jawaban, saya ingin memperkenalkan seseorang terlebih dahulu.” Ayahanda Hendra menoleh pada wanita yang duduk tepat di sebelah Hendra, yang kukira adalah kakaknya. “Ini Sarah.”
Wanita yang dari tadi menunduk itu akhirnya mendongak ketika mendengar namanya disebut. Aku bisa melihat dengan jelas matanya berkaca-kaca. Meski kelihatan sulit, aku perhatikan dia berusaha menyunggingkan senyuman.
“Sarah ini adalah istri dari Hendra.” Jantungku rasanya ingin melompat keluar ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut ayahanda Hendra. Aku melirik ke arah ibu dan ayah, mereka sama terkejutnya denganku. Ibu berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tersenyum tipis. Sedangkan ayah, beliau mencengkram pegangan kursi dengan kuat hingga ruas-ruas jarinya memerah.
“Sarah ini wanita yang luar biasa. Dia bersedia dipoligami oleh Hendra karena besarnya cintanya pada suaminya. Dan dia semakin ikhlas untuk berbagi ketika mengetahui wanita yang ingin dinikahi Hendra adalah wanita soleha seperti nak Ziya.”
Kenapa Hendra tidak pernah mengatakan ini sebelumnya padaku? Dan bodohnya, kenapa aku tidak pernah menanyakan mengenai statusnya? Ayahanda Hendra terus berbicara namun pendengaranku tidak lagi begitu tajam. Aku menatap Hendra yang balik menatapku. Dengan sengaja aku mempertontonkan tatapan penuh kekecewaan padanya, mungkin juga pada seluruh anggota keluarganya sekalipun, aku tidak peduli. Apa mereka kira kerena aku belum laku di usiaku ini sehingga aku bersedia dijadikan istri kedua? Aku mengenal diriku. Aku bukan wanita hebat seperti khadijah istri baginda Rasulullah.
“Saya rasa anak saya baru mengetahui bahwa Hendra sudah menikah sebelumnya. Begitu juga dengan kami. Kami mohon maaf belum bisa menjawab niat baik dari pihak bapak malam ini.” Ayah mengambil inisiatif yang membuatku merasa begitu terselamatkan. Aku tidak tahan lagi harus memasang wajah baik-baik saja di depan mereka.
“Ziya,” Ayah menatapku dengan raut sedih. Kedua orangtuaku tahu betapa aku menyukai Hendra. Aku sudah menceritakan mengenai pertemuan kami, kemudian komunikasi kami yang terjalin selama seminggu lebih.
“Aku tidak akan menikahinya, ayah.” Jawabku kemudian berlari ke kamar. Aku meraih telepon genggamku yang tergeletak di atas nakas, membuka kontak, mencari dua buah nama, Derajat dan Hendra. Aku memblokir kedua nomor itu.
“ZIYA!” Aku mendengar teriakan tidak jauh dari tempatku duduk.
“Fiah?” dia melambai-lambaikan tangan memanggilku.
Saat ini aku sedang berada di salah satu restoran yang tidak jauh dari universitas. Seharusnya siang ini aku bertemu dengan salah satu agen percetakan buku untuk membicarakan mengenai kumpulan paperku dan dosen-dosen lain yang akan dibukukan. Namun sang agen membatalkan janji di menit-menit terakhir, saat aku sudah memesan makanan dan minuman sehingga akhirnya aku harus makan siang sendirian.
“Hey.” Aku mengecup kedua pipi Fiah dan tersenyum pada Heru, suaminya. “Tumben makan di luar. Sudah bosan masak, ya kamu?” aku duduk pada sofa di sebelah Fiah yang berhadapan dengan suaminya.
“Mas Heru mau bertemu temannya. Itu loh, yang aku bilang waktu itu.”
“Yang mana?” aku tidak menangkap maksud perkataan Fiah.
“Yang mau dia jodohkan sama kamu.” Celetuk mas Heru. Aku terkekeh teringat kejadian beberapa waktu yang lalu itu.
“Aku dengar kamu menolak lamaran Derajat. Iya?” Aku mengangguk. Aku rasa Fiah mengetahuinya dari Ibu. Atau Ibundanya. Karena kedua ibu kami berteman akrab.
“Kalau begitu tidak ada salahnya, kan, kalau kamu kenalan sama teman mas Heru ini?” aku mengangguk lagi. “Dia laki-laki baik, Ziya. Pengusaha sukses, soleh, ganteng, ramah, …”
“Assalamualaikum.” Kalimat Fiah terputus ketika kami mendengarkan salam. Dengan serempak kami mendongak.
“Waalaikumsalam.” Hanya Fiah dan mas Heru yang menjawab. Sedangkan aku begitu terpana melihat sosok teman mas Heru itu. Bukan, bukan karena ketampanannya –meskipun dia memang tampan-. Tapi karena aku mengenalnya. Maksudku bukan kenal. Aku tahu dia siapa.
“Lutfi.” Kata itu meluncur begitu saja dari bibirku. Lutfi menoleh padaku. Ini untuk pertama kalinya kami melakukan kontak mata. Sesuatu berdesir di dalam dadaku.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Fiah terkejut.
“Lutfi, jangan menatap wanita yang bukan muhrim terlalu lama.” Teguran dari mas Heru membuat Lutfi beristigfar dan menundukkan kepalanya. Hal itu membuat kami semua tergelak.
“Lutfi ini laki-laki yang dijodohkan oleh orangtuaku.”
“Kamu juga menolak dia?” Fiah terdengar penasaran.
“Aku belum melamar, Fiah. Kelihatannya Ziya tidak menyukaiku.” Ucapan Lutfi menggelitik perutku untuk menegurnya.
“Bukan aku yang menjadi sosok dingin, pendiam dan tanpa ekspresi saat calon pendampingku datang ke rumah. Bukan aku juga yang mendiaminya sepanjang malam.” Aku menjadi sedikit sarkastik. Perkataanku membuat Fiah dan Heru memasang ekspresi lucu. Seperti, menahan tawa.
“Itu tandanya kamu membuat dia gugup. Kamu berpotensi membuat dia suka sama kamu, Ziya.” Kata Fiah.
“Itu kan menurut kamu, Fiah.” Aku begitu geram karena Lutfi belum juga mengangkat wajahnya, apalagi merespon ucapanku.
“Fiah benar.” Nada bicaranya begitu tegas, membuatku merinding. Lutfi mengangkat wajahnya, dan mata kami bertemu untuk kedua kalinya. “Aku menjaga pandanganku, Ziya. Karena jika aku tidak bisa menjaga pandanganku, aku tidak yakin aku akan bisa menjaga hatiku.” Dia masih menatapku. Rasanya seolah tidak ada siapa-siapa di sini, hanya kami berdua.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kamu punya kekasih?”
“Kekasihku saat ini hanyalah Rasulullah.”
“Apa kamu punya istri?” tanyaku lagi. Entah kenapa Fiah dan Heru diam saja dari tadi, seperti sedang menikmati pertunjukan teater.
“Tidak, Ziya. Jika aku sudah punya istri, orangtuaku tidak akan menjodohkan kita dan aku tidak akan pernah mau dijodohkan.”
“Apa semua jawaban kamu itu jujur?”
“Ya. Demi Allah.”
“Baiklah. Aku percaya.”
“Sekarang giliran aku yang bertanya. Boleh?” aku mengangguk meski jantungku berdebar-debar. “Apa kamu sudah menikah?”
“Tentu saja belum.”
“Hanya ingin memastikan. Apa kamu sudah menerima lamaran seorang laki-laki?”
“Belum ada.”
“Kalau begitu aku dan keluargaku akan datang nanti malam untuk melamarmu.” Aku begitu tersentuh mendengarnya mengatakan hal itu penuh keyakinan. Aku yakin ini semua sudah dalam rencana Tuhan. Dan aku percaya, jodoh tidak akan pernah tertukar. Mataku berkaca-kaca, begitu juga dengan mata Lutfi.
“Rasanya aku ingin dilamar lagi.” Celetukan Fiah membawaku kembali ke dunia nyata.
“Tapi kisah kita tidak akan bisa mengalahkan romantisnya kisah mereka.” Kata Heru. Kami semua tertawa dan melanjutkan makan siang.
Aku menyadari satu hal. Lutfi bukan hanya akan menjadi pilihanku. Tapi juga pilihan kedua orangtuaku dan kedua sahabat terbaikku. Kurang meyakinkan apalagi jika orang-orang yang paling aku percaya dalam hidupku sudah terlibat dalam mempertemukan kami?
End

hanya allah yang tau

Sejenak kita saling berpandangan, menatap bola mata yang berbinar-binar menahan haru satu sama lain. Haru karena bertemu insan yang dirindu-rindu, sejak lama tak bertemu.
“Hari ini aku senang dapat bertemu denganmu kembali ukhti, namun aku datang dengan membawa banyak duka” katamu lirih sekali. Sambil sesekali menyeka air mata yang membanjiri pipi cabimu.
Batinku mulai menerka dan menebak mungkinkah dukamu ini karena pesanan doa yang belum dikabulkan oleh sang pengkabul doa? Aku yang begitu berambisi ingin sekali tahu tentang apa sebenarnya yang terjadi denganmu pun langsung sigap merangkai kalimat tanya yang kuusahakan agar tidak menyinggung perasaanmu. Ku akui, aku tidak terlalu pandai merangkai kata-kata menjadi kalimat tanya yang lembut. Dengan suara yang lirih pula aku mulai mengajukan pertanyaan sederhana padamu.
“Duka apa itu wahai ukhti?”
“Dia menikah” jawabmu singkat sekali.
Kutahu, kau sangat sedih sekali. Bagaimana mungkin sebuah hati akan tetap utuh sementara ia telah dicukil oleh tajamnya pengkhianatan. Aku pun merasakan luka itu. Kurangkul tubuh mungilmu itu, kupeluk dirimu erat-erat seraya berkata “tidak mengapa dia meninggalkanmu duhai ukhti, yang terpenting Dia (Allah) senantiasa mendekapmu dalam cinta dan kasih sayang-Nya” kataku mencoba memotivasimu.
Waktu pun cepat berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, itu artinya kita harus segera bergegas pulang kerumah.
“Ukhti” kataku yang mengejutkanmu dari lamunan.
“Ya naam ukhti” jawabmu lagi-lagi dengan nada begitu lirih.
“Mari pulang ukhti, sudah hampir magrib”
“Ya ukhti”.
Akhirnya kita berpisah kembali.
Lama tak ada kabar darimu, aku mendapat pesan singkat dari nomor yang tidak kutahu itu siapa. Ternyata pesan singkat itu darimu, yang berisi tentang undangan pernikahanmu dengan orang yang kusukai selama ini. Hahah, tawaku getir sekali. Bahagia melihat sahabat tersayang akan segera menikah, namun sedih karena melihat dia yang ada di doaku bersama sahabatku. Dunia begitu sempitnya, entah bagaimana kronologisnya mereka bisa bertemu. Aku mencoba mengikhlaskannya saja.
Kupikir, aku juga yang salah. Tak pernah menceritakan pria yang kusuka selama ini. Memang aku orangnya sangat tertutup, apalagi masalah asmara, akulah orang yang paling pandai menyembunyikan perasaan.
Hari itu aku datang kepernikahanmu. Senyum, tawa bahagia tampak jelas di wajahmu. Ku peluk tubuh mungilmu lagi dan berkata “happy wedding sahabatku, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrohma”.
Setelah itu, aku langsung bergegas meninggalkan tempat bahagia itu. Bahagia untuk kalian, tapi tidak untukku.
Bahkan sampai detik ini pun, tak ada seorang pun yang tahu tentang rasa ini. Hanya Allah yang tahu.
Biarlah dia yang kusebut namanya dalam doaku menjadi hakmu duhai ukhti. Aku pun bahagia melihat dua insan yang kucintai akan saling mengasihi.

akhir penantian

Bismillahirrohmannirrohiim Assalamualaikum ini kisah cinta mungkin kalian udah sering dengar apa itu cinta kan? ok lanjut aja ya, suatu hari ada seseorang bernama dony dan tasya mereka duduk di bangku SMP kelas 7, jadi baru mos lah, lalu disaat mereka diharuskan berkenalan dan bersillahturrahmi dony menjadi jatuh hati pada si tasya tapi tasya tidak memiliki rasa yang istimewah pada si Dony.
Dony adalah seorang murid yang sholeh Alhamdulillah. Setiap si Dony melihat dan bertemu dengan tasya, Dony hanya bisa berdoa “ya Allah ini dia ya Allah ini dia yang aku harapkan ini dia yang ingin kujadikan jodohku” tetapi itu cuma dalem hati kawan mereka 1 kelas tapi tidak begitu dekat Tasya juga murid yang Sholehah Alhamdulillah, di waktu istirahat ia terkadang melaksanakan sholat Dhuha jika tidak begitu ia selalu mengaji saat jam istirahat tak heran bila ia menjadi murid kesayangan para guru.
Saat itu di Kantin saat si Tasya ingin kembali ke kelas karena akan sarapan tak sengaja Dony menumpahkan minuman si Tasya, Tasya hanya tersenyum dan berkata “Gak papa nanti aku beli lagi” lalu si Dony menjawab “Ini pake uangku aja kan aku yang jatuhin” tapi si Tasya menolak. Begitu sabarnya Tasya.
Tasya tak ingin bersentuhan dengan seorang teman laki lakinya karena orangtuanya sangat ketat menjaga dan mendidiknya. Dony dan Tasya tidak ingin berpacaran, Subhannallah.
2 Tahun berlalu saat kelas 9 akan menjalankan acara perpisahan Dony ingin mengungkapkan rasa kepada si Tasya tapi si Dony tau bahwa si Tasya begitu Sholehah begitu alim si Dony tidak jadi mengungkapkan perasaannya dan akhirnya mereka berpisah dan Dony menyimpan rasa dengan Tasya hingga Kuliah. Setiap malam Dony hanya bisa berdoa semoga mereka dijodohkan Dony yang sering melakukan Sholat Tahajjud dan sedekah.
Setelah Dony lulus Kuliah ia menjadi seorang Ustad dan mengajar anak anak kecil mengaji saat itu Dony sedang pergi ke Mall bersama keluarga dan keluarganya menerror Dony “Don kapan nikah” ya begitulah saat ditanya begitu Dony hanya menjawab “iya”
AllahuAkbar!! apa yang terjadi? saat Dony izin kepada keluarganya bahwa ia ingin ke kamar mandi ia berpapasan dengan Tasya mereka berdua berbincang saat itu Tasya membawa keluarganya juga. Keluarga mereka berkenalan dan semakin seperti saudara si Dony Sering mampir ke rumah si Tasya dan sebaliknya. Akhirnya saat bulan Ramadhan telah berlalu Keluarga Dony dan Tasya melaksanakan Sholat Ied bersama di tempat yang Sama, setelah ingin pulang keluarga Tasya mampir ke rumah si Dony.
Ayah Tasya berkata “mungkin ini jodoh kalian berdua” dengan tertawa bercanda, “Ah amin ya Allah” ucap Dony yang begitu pelan, “ah ayah malu tasya” ucap Tasya kepada Ayahnya.
Akhirnya si Dony berkata kepada Ayah Tasya “pak saya ingin menikahi anak bapak jika bapak merestui terima kasih pak..” ucap kata Dony dengan Lembut dan saat itu keluarga Dony dan Tasya kaget tapi ayah Tasya berkata “iya nak Bapak restui, bapak sudah tau kok sifat dan sikap kamu kepada Agama Allah, bapak restui kamu sama tasya, sekarang kamu tanya sama orangtua kamu mereka merestui atau tidak” ucap ayah Tasya.
Akhirnya mereka direstui dan mereka menikah setelah menjadi pengantin baru dan saat sholat Maghrib berjamaah dengan si Tasya, Dony mengeraskan Doanya hingga Tasya mendengar doa itu “ya Allah terima kasih ya Allah engkau menjawab doa hamba setelah hamba berdoa bertahun-tahun setelah hamba melaksanakan Sholat Tahajjud karena ingin menikahi Tasya dan setelah hamba berhari-hari bersedekah engkau kabulkan ya Allah Terima kasih” ucap Dony sehingga membuat Tasya meneteskan air mata dan memeluk Dony. Alhamdulillah mereka menjadi keluarga Sakinah Mawadah dan Warohma.
Sekian.

and i hope

Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil
Aku memang terkenal dengan keramahanku, hingga pada suatu hari ada seorang laki laki yang diam diam menyukaiku. Dia -laki laki itu- memang tampan tapi sayangnya akhlaknya buruk, suka mabuk mabukan, berpesta, bahkan pernah terjangkit kasus nark*ba
Astaga, dia cantik sekali, wajahnya bersinar, ya ampun…
“Hei!!!”
“Astaghfirullah, maaf mas kita bukan muhrim, jangan pegang pegang”
“Oh iya sorry, gua gak sengaja, kenalin gua Bayu, lo siapa?”
“Saya Ilona”
“Namanya cantik kaya orangnya”
“Terimakasih, ya sudah saya duluan, wasalamualaikum”
“Walikumsalam, ya Tuhan mimpi apa gua semalem, ketemu wanita cantik, ramah udah gitu sholeha lagi”
Saat aku hendak pulang, diam diam dia mengikutiku sampai di Pesantren. Iya, aku memang seorang santri yang sudah lama mengabdi di pesantren. Keluargaku memasukkan aku ke pesantren dari aku kecil.
Waktu yang aku tunggu tunggu kini tiba, aku dikirim ke Paris, karena mendapatkan beasiswa studi di Universitas terkenal di Paris. yaah.. Paris, kota yang selama ini aku idam idamkan, akhirnya tercapai juga impianku.
Tepat di taman aku duduk, sambil memotret pemandangan di sekitar taman, terdengar suara salam yang merdu di belakangku
“Assalamualaikum”
“Waalaikumu.. ssalam, kamu…
“Iya.. aku Bayu, kamu masih ingat aku kan?”
“Masih.. kenapa kamu ada disini?”
“Aku nyusulin kamu kesini”
“Kenapa?”
“Aku ingin mengejar cintaku, aku ingin meminangmu sebagai istriku, sejak pertama kali aku bertemu kamu, aku jatuh cinta Ilona”
Tetesan air mata membasahi pipiku, tanpa kusadari, sungguh aku terkejut
“Ilona”
“Bayu.. ini yang selama ini aku tunggu tunggu, suda lama aku menyimpan rasa ini, hingga ternyata Allah mengirimu sebagai jodohku”
“Sungguh?”
“Iya bay.. lalu kenapa kamu merubah penampilanmu, kamu terlihat lebih sholeh”
“Ilona, aku bertaubat, aku sungguh sungguh bertaubat karena aku sadar, aku berada di jalan yang salah, dan aku memutuskan untuk bertaubat nasuha karena Allah”
“Syukurlah Allah memberimu hidayah, lalu kenapa kamu tau aku ada disini?”
“Maaf Ilona, aku diam diam belajar di pesantren tempat kamu, dan aku mendengar kamu akan pergi ke Paris, akhirnya aku memutuska untuk ke Paris juga”
“tidak apa apa”
“Kamu benar menyukaiku?”
“Memang, pertama kali aku bertemu denganmu, aku menyukaimu diam diam, aku menyimpan rasa ini, aku pasrahkan semua kepada Allah, tiap malam aku menangis menahan rasa ini, tapi ternyata di balik itu semua Allah menjodohkanku denganmu. Orang yang selama ini aku ucap di sholat tengah malamku, dan pada akhirnya engkau meminangku”
Semenjak dipinang oleh dia aku berhenti studi dan hidupku menjadi sempurna karena dia. Hari hariku penuh warna hingga akhirnya Allah memberi anak yang lucu kepada keluarga kami.
Kunamakan Aisyah, dia tumbuh dengan parasnya yang cantik dan akhlaknya yang sholeha. Kehidupan kami menjadi lebih sempurna semenjak ada Aisyah di tengah keluarga kami.
Saat itu…
“Kamu kenapa de?”
“Aku pusing mas”
“Ya udah mending kamu istirahat dulu, mungkin kamu kelelahan, akhir akhir ini kayaknya kamu sering pusing”
“Iya mas, aku juga gak tau”
“Ya udah besok kita periksa aja yah”
“Iya mas”
“Bunda kenapa yah?”
“Bunda mungkin kecapean jadi bunda mau istirahat dulu”
“Ohh.. ”
Entah kenapa akhir akhir ini aku sering pusing, malah waktu itu pernah sampai pingsan, tapi untung ada yang nolongin. seorang ibu ibu yang aku panggil oma, dia sangat baik, dia tetanggaku di Paris dan sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri.
“What doc?, Ilona have a brain cancer?”
(Apa dok, Ilona mempunyai kanker otak?)
“Yaah.. and now had stage 4, her stay counting time, only miracle from God that helps”
(Yaah.. dan sekarang sudah stadium 4, hidupnya tinggal menghitung waktu, hanya keajaiban dari Tuhanlah yang membantu)
Seketika itu air mata menetesi pipiku, sudah tidak ada harapan lagi untukku, tubuhku mulai lunglai tak berdaya, kenyataan yang sungguh menyakitkan di hidupku ini
Tuhan… cobaan apa ini?
“De Ilona harus ikhlas, masih ada mas disini, mas akan selalu ada buat ade, mas akan selalu menjaga ade, mas sayang ade…”
“Tapi mas, umurku tinggal menghitung waktu, keselamatan aku untuk bertahan hidup sangat kecil, bagaimana dengan aisyah mas?, dia masih butuh kasih sayang aku”
“Udah de.. jangan mikirin itu, yang harus kamu lakukan.. berdoa sama Allah, minta pertolongan-Nya. ”
Aku terus saja menangis, kenyataan ini sungguh tidak terduga, tiap malam aku berdoa meminta pertolongan Allah…
Rontokan rambut mulai menghiasi hidupku, sehelai demi sehelai berjatuhan, aku hanya bisa menangis melihat perubahanku ini, tetapi suamiku dia malaikat tanpa sayap yang selalu menyemangatiku, selalu tersenyum di depanku, meskipun aku tau, di belakangku ia menangis
Operasi pengangkatan kanker akan segera dimulai, hal yang sangat aku takuti akhirnya tiba.
“De.. kamu harus kuat, kamu harus bisa ngelawan kanker jahat itu, kamu harus bisa melewati operasi ini, kamu kuat kamu kuat Ilona”
Hanya senyum tipis yang bisa aku berikan. Aku memasuki ruang operasi, di dalam sudah ada dokter yang siap dengan peralatan peralatannya, dan lampu yang sudah siap menyorotiku. Mataku terpejam karena cairan bius di tubuhku. di luar kamar operasi suamiku selalu berdoa dan tidak henti hentinya berdzikir berharap ada keajaiban.
Dokter yang menanganiku akhirnya ke luar
“Doc, how my wife doc?”
“Sorry sir, I can only try up here, your wife is not saved”
Bayu mulai lemas, air mata tak henti hentinya berjatuhan, kenyataan pahit apa ini ya Allah…
“Ayah.. Bunda mana?”
“Bunda sudah tenang di surga nak”
“Bunda pasti bahagia di surga, aisyah pengin nyusul bunda kesana.. Oh ya Ayah, bunda nitipin surat ini ke aisyah, katanya suruh dikasih ke ayah, ayah baca yah..”
Untukmu suamiku…
Malaikat tanpa sayap
Yang selama ini menjagaku dan merawatku
Mungkin disaat kau membaca surat ini, aku sudah tenang di sisi Nya
Aku hanya ingin menyampaikan beribu ribu terimakasih
Selama aku sakit, kau yang merawat, yang menghiburku, yang menjagaku dengan kasih sayangmu
Entah berapa ribu tetesan keringat dan air mata yang engkau jatuhkan
Meskipun kau selalu bilang “aku gak cape”
“Lihat tidak ada kesedihan di wajahku de.., aku aja gak sedih, masih terus semangat, masa kamu kalah sama aku mas?”
Tapi aku sadar penyakit itu terlalu kuat, sedangkan tubuhku tidak kuat lagi, aku kalah dari kanker.
Maaf beribu ribu maaf..
Aku belum bisa menjadi istri yang sholeha
Aku belum bisa mengabdi sepenuhnya
Aku belum bisa menjadi ibu yang baik untuk aisyah
Aku belum bisa bahagiain kalian
Sekali lagi aku minta maaf
Salam hangat
Ilona
“Ayah kenapa? kok nangis?”
“Ayah gak papa kok”
“Ayah pasti sedih yah ditinggal bunda, ayah jangan sedih.. bunda udah sama Allah kok, bunda udah bahagia sama Allah
Ayah tenang aja, masih ada aisyah kok”
“Iya aisyah..”
“Ya Allah, jagalah bunda, jangan buat bunda sedih.. aisyah sayang bunda”

siapa imamnya

Ramadhan tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Malam ini aku menunaikan shalat Tarawih di Masjid Daarul Ulum. Jamaah shalat Isya dan Tarawih sudah memenuhi Masjid, bahkan beberapa dari jamaah perempuan membuat shaf hingga di pelataran depan Masjid. Aku dan Mira bergitu bersemangat karena menurut kabar yang kami dengar dari ustadzah, Ustadz Umar selaku pengasuh pondok pesantren akan mengimami shalat Isya dan shalat Tarawih malam ini.
Ceramah serta nasihat-nasihatnya yang selalu kami rindukan yang membuat kami begitu antusias untuk shalat di Masjid Daarul Ulum. Sedikit canggung karena masjid ini terletak di dalam area pesantren putra. Memasuki area pesantren putra adalah hal yang aneh bagi kami. Sehingga kami akan selalu menundukkan kepala selama masih berada di dalamnya. Jangankan bercanda, untuk mengobrol saja kami malu. “Haram hukumnya bagi santriwati memasuki area pesantren putra!!” itulah yang dikatakan ustadzah kepada kami. Mungkin hal itu juga yang dikatakan para ustadz kepada santrinya.
Adzan sudah berkumandang. Suara merdu serta bacaannya yang fashih menjadikan suasana adzan begitu khidmat. Setiap jamaah khusuk mendengarkan dan menjawab setiap bacaan adzan yang dikumandangkan. Tidak ada suara mengobrol selain sesekali terdengar suara celotehan anak-anak kecil yang sedang bermain. Ada pula suara anak yang sedang merengek meminta pulang kepada ibunya. Tetapi itu tidak mengurangi kekhusukan kami dalam mendengarkan adzan. Memang ada beberapa warga setempat yang ikut shalat berjamaah di masjid ini. Aku memilih berada di shaf bagian tengah. Samping kananku ada Mira dan Naila. Dan di samping ada ustadzah dan juga teman-teman.
Jeda waktu di antara adzan dan iqomah sangat istimewa. Setelah melaksanakan shalat rawatib aku tidak melewatkan sedetik pun selain untuk berdoa kepada Allah sampai sang muadzin mengumandangkan iqomah. Ada getaran rasa yang tak bisa kuterjemahkan. Seperti rindu akan seseorang. Yang entah siapa dan di mana.
Seperti bulan dan bintang mengerti malam. Bait-bait doa yang kutitipkan pada semilir anginnya mengalir begitu saja. Sederetan mimpi dan cita-cita terekam jelas. Lalu, ada sebuah nama di sana. Sangat pelan bahkan hampir tak terdengar saat kusebut namanya. Bermunajat dengan segenap harapan. Jika ada yang tahu, hanya aku dan Allahlah. Jika ada yang mengerti, juga hanya aku dan Allah lah yang mengerti.
Ustadz Umar berdiri di tempat imam. Beliau baru saja mengimami shalat Isya. Membuka dengan salam serta sapaan hangat kepada para jamaah. Sang Ustadz memulai ceramahnya. Beliau mengingatkan bahwa bulan Ramadhan ini harus betul-betul dimanfaatkan untuk fastabiqulkhoiraat. Sederet pesan untuk santri-santrinya selalu beliau sampaikan dalam kesempatan seperti ini. Kisah-kisah inspiratif sahabat rasul dan kisah inspiratif dari pengelamannya sendiri selalu membuat kami ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku begitu memperhatikan setiap kata dan ayat yang ia ucapkan. Seperti sebuah handphone, hatiku terasa tercharger setelah mendengar ceramah dan nasihat dari Ustadz Umar. Nasihatnya membangkitkan semangat jiwa dan raga. Beliau adalah seorang teladan, guru kami dan guru kita semua.
Shalat Tarawih delapan rakaat telah usai. Sangat khusyuk dan khidmat. Doa pun telah dibacakan. Aku begitu merinding mendengar ayat demi ayat yang dibacakan Ustadz Umar. “Ayah, doakan kami. Kelak suasana seperti ini akan terulang kembali di tempat yang berbeda. Masjidil Haram” bisikku kepada Ustadz Umar. Meski kutahu itu tidak akan terdengar sampai ke telinga beliau. Biarlah, sebaris ucapan itu menjadi doa. “Terimakasih Ya Allah. Engkau telah menempatkanku diantara orang-orang sholeh dan sholehah. Aamiin”. Setetesan bening di sudut mata segera kuusap.
Setelah berdoa beliau menyampaikan bahwa akan dilaksanakan shalat Hifdzil Qur’an yang akan diimami oleh salah satu ustadz yang juga murid beliau. Seperti dejavu, getaran rasa itu kembali menyesakkan dadaku.
Allahu Akbar.. Masya Allah.. air bening di kelopak mata tak dapat kubendung lagi. Mengalir lembut membentuk anak sungai di pipi tirusku. Dadaku terasa semakin sesak. Entah apa yang memenuhinya. Ayat demi ayat yang dibacakannya begitu fashih ditambah dengan suara yang mengalun merdu. Aku yang hafal sebagiannya tenggelam dalam kekhusukan malam itu di Masjid Daarul Ulum bersama jamaah lainnya. Allah telah menjadikannya ahli Qur’an.
“Ya Allah, tadi siapa imamnya?” lirihku.
“Itu Ustadz Furqon”
“Eh” aku gugup sekaligus kaget. Mendengar jawaban ustadzah. Kukira bisikannku itu tak akan terdengar oleh siapapun.
“Iya. Dia adalah salah satu pengajar tahfidz di pesantren putra. Nama lengkapnya Ustadz Furqon Al Imroni” ustadzah berkata dengan jelas seolah tahu isi pikiranku.
“Ooh” aku kembali diam.
“Suaranya bagus” aku kembali bersuara sambil tersenyum.
“Iya. Hampir semua santri dan asatidz sudah tahu” ustadzah berkata dengan ekspresi datar.
“Aku juga pernah dengar sebelumnya, beliau membacakan shalawat di acara pembukaan pengenalan santri baru” sahutku sambil mengingat-ingat berusaha mengembalikan memori itu.
“Ketika itu Ustadz Furqon masih berstatus santri, hehe.” Ustadzah berkata sambil tertawa kecil. Aku hanya mengangguk.
Dalam suasana gelap seperti ini aku berhasil menyembunyikan rona merah di pipiku. Kalau terlihat bisa jadi ustadzah akan terus menggodaku. Kami dalam perjalanan pulang menuju asrama putri dengan berjalan kaki. Selama perjalanan, ada saja tingkah salah satu teman kami yang membuat kami semua tertawa. Saat tersadar kalau kami sedang berada di jalan, biasanya kami langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangan sambil cekikikan karena sisa tawa.
Enam belas santriwati angkatan akhir memang sengaja dikirim ke sini untuk dikarantina. Dan asrama tempat kami dikarantina ini memang dekat dengan asrama putra. Sesampainya di asrama aku langsung mengambil wudhu dan berniat untuk mengulang hafalan Qur’anku. Beberapa teman memilih untuk langsung pergi ke alam mimpi. Hanya ada beberapa yang mempunyai hobi makan langsung berkumpul untuk menyantap cemilan-cemilan yang ada di hadapannya. Waktu memang masih pukul 21:00 waktu setempat. Jadi ustadzah masih memberikan kesempatan untuk kami beraktivitas. Jika waktu tidur sudah tiba ustadzah akan segera memaksa kami untuk istirahat dan tidur.
Aku merasa tidak konsentrasi ketika mengulang hafalanku. Sudah kupaksakan, tetapi tetap saja. Seperti ada sesuatu yang sedang berlari-lari di pikiranku. Akhirnya aku memilih untuk merapikan tempat tidur dan mengambil posisi berbaring. Di sampingku Mira sedang asyik mengobrol dengan Naila. Entah apa yang sedang dibicarakannya, mereka terlihat senang sekali. Suasana sudah berbeda dengan sebelumnya. Hanya ada gelap dan suara detak jarum jam dan sesekali suara cekikikan Mira dan Naila. Masih sulit bagiku untuk memejamkan mata. Tak dapat kugambarkan apa yang ada dalam pikiranku, tetapi rasa rindu ini jelas. Suara merdu itu, yang selalu membuat dadaku sesak. Aku menginginkannya untuk imamku dan imam anak-anakku kelak. Suara detak jarum jam seolah membantuku menghitung jarak atara aku dan sang Imam. Inikah yang dinamakan cinta? Aku tidak mengerti. Bahkan untuk mengakuinya saja aku tak berani. Kepada siapa aku harus bercerita, aku tak tau. “Ya Allah, jika memang dia yang terbaik untukku maka dekatkanlah. Tetapi jika tidak, maka berilah kami jalan terbaik. Aamin”.
Ribuan siang membekas segenap harapan. Ribuan malam pun berlalu begitu saja meninggalkan rindu yang mendalam. Aku masih menjadikannya selaksa kata dalam setiap bait doa-doaku. Agar takdir senantiasa mendekatkan jarak kita. Namun, setitik cahaya pun tak nampak. Allah telah memberikan jalan terbaik. Rasa itu memudar bersama musim yang tidak akan pernah kembali dengan udara yang sama. Tak ada lagi rindu. Tak ada lagi dada yang sesak. Akan ku cari lantunan merdu untuk pengiring takbirku di multazam cintaNya. Dengan hati yang damai kemudian kuarungi samudera kehidupan bersama derap langkah yang pasti. Sang Imam tak pernah lagi muncul dalam rekaman kisah-kisahku. Namun, kupercayakan semua padaNya.
Akan kulanjutkan mimpi-mimpi menjadi sebuah cerita indah bagi bidadari-bidadariku. Satu hal yang kuyakini, bahwa Sang Pemilik Hati telah membangun jalan terindah menuju kebahagiaan yang akan kembali menyesakkan dada.
Tahun keempat aku mengabdi di tempat para ahli qur’an ini. Jiwa dan ragaku telah menyatu dengan ruh bangunan bertingkat ini. Pahit manis udaranya telah kuhirup dalam-dalam dan ku simpan di dalam dada. Tak akan kuhembuskan, karena itu akan membuatnya hilang. Di sini kutemukan kedamaian yang selalu menenteramkan hati.
“Ana bermaksud baik sama Antum”
Aku masih tertunduk dan menyimak, kalimat apa yang akan diucapkan Ustadz Umar selanjutnya.
“Ana juga melihat Ustadzah sudah matang, dan Insha Allah siap”.
Dalam kediaman aku semakin bingung.
“Maksud Ustadz?”
Akhirnya aku pun bersuara
“Begini Ustadzah, Ana bermaksud mengenalkan seseorang sama Antum. Beliau itu, salah satu mantan santri terbaik di sini yang sekarang alhamdulillah sudah mampu mengajar para santri. Ana berdoa semoga ini selanjutnya bisa menjadi ibadah. Sekaligus Ana melihat ada kecocokan antara Antum dan beliau. Untuk akhlak dan kepribadiannya, Ana betul-betul yakin. Beliau adalah orang yang shaleh dan baik, Insha Allah. Karena Ana sudah mengenalnya sejak ia masih menjadi santri hingga sekarang telah menjadi Ustadz panutan bagi asatidz yang lain”.
Keheningan menyelimuti ruangan. Namun, tidak di ruang hatiku. Gemuruh di dadaku seolah mengajakku berlari.
“Silahkan dipikirkan baik-baik. Berdoalah kepada Allah agar diberi petunjuk. Ana pun ikut mendoakan. Sekali lagi Ana berharap semoga ini bisa berlanjut dan menjadi ibadah serta amal baik. Kalau mau ta’aruf atau mau tau lebih benyak tentang beliau, Antum bisa tanya sama Ustadzah Raisa. Namanya, Ustadz Furqon Al Imroni. Nah, Ustadzah Raisa adalah kakak kandungnya beliau”.
Kini aku benar-benar berlari. Sesuatu memenuhi rongga dadaku, tak ada ruang untukku bernafas. Aku merasakan seolah putaran bumi tempatku berpijak semakin melambat. Aku berusaha dengan sekuat mungkin untuk menahan agar bendungan di kelopak mataku tidak tumpah. Rasa syukur kuucapkan beribu-ribu kali. Kini Allah telah menunjukkan kepadaku jalan yang sangat indah.
Tak ada janji terindah selain janji Tuhan kepada hamba Nya. Malam ini adalah saksi bahwa janji Allah itu ada, “Berdoalah kepada Ku, niscaya akan Aku kabulkan..”.
Ustadz Umar pergi meninggalkan kami di ruang tamu. Aku tak kuasa lagi menahan kebahagiaan. Kupeluk Ustadzah Raisa yang sedari tadi duduk menemaniku dengan sangat erat. Bendungan kecil itu tumpah ruah hingga membasahi kerudung yang dikenakan Ustadzah Raisa. Perempuan baik hati itu terheran-heran. Ia ingin bertanya dan meminta penjelasan atas tangisanku itu. Namun, aku belum ingin melepaskan pelukanku. Semua rasa menjadi satu dalam dadaku malam itu.
“Ya Allah, terima kasih”. Gumamku.

jodoh pasti bertemu

Aku terdiam seribu bahasa menyaksikan drama nyata yang begitu memilukan. Bahkan sekedar berkomentar satu huruf pun aku tak kuasa. Kubiarkan hati ini beku, kubiarkan pikiran ini kacau tak keruan, kubiarkan deru air mata ini membanjiri pipiku.
“Mengapa kau setega ini padaku? Apa salahku?” pertanyaan perdana yang kukeluarkan dari mulutku. Mencoba mengobati rasa penasaran ini. Kau diam tak bergeming sama sekali. Apa aku seburuk itu sehingga kau membatalkan pernikahan ini. Aku mulai menggerutu keadaan.
“adakah aibku yang membuatmu mundur?” kembali aku lontarkan pertanyaan sederhana namun bermakna dalam. Kau juga masih tak mau angkat bicara. Kuperhatikan wajahmu, wajah yang menyimpan mata yang mulai menyipit dan mulai berkaca-kaca.
“Hmmmm” kau menghela nafas. Tiba-tiba kau mengeluarkan sepucuk surat yang dibalut dengan amplop berwarna merah muda. Kuterima surat itu dan buru-buru kubaca. Kukira itu surat undangan pernikahanmu dengan wanita lain, tapi ternyata surat itu berisi pernyataanmu bahwa kau akan melanjutkan S2 mu ke luar negeri. Lagi-lagi aku tak mampu berkomentar. Hanya senyum getir dari bibirku yang mewakili segala isi hati.
Kemudian kau menatapku lekat. Seolah ingin menyampaikan sesuatu, dan aku menunggu itu.
“Hanya kau gadis yang ingin aku nikahi. Ayah memintaku untuk melanjutkan study ke luar negeri, sementara hati ini ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan denganmu. Aku tak pandai memilih pilihan. Adinda, seandainya kita menikah dan setelah menikah aku pergi ke luar negeri untuk mengabulkan permintaan ayahku bagaimana? Ayah dan kau adalah 2 insan yang sangat kucinta. Ku tak mungkin hanya mengabulkan salah satu diantaranya saja” jelasmu sedetail mungkin.
Aku tahu, kau sangat mencintai ayahmu dan juga aku. Penjelasanmu itu sungguh telah membuat aku bimbang. Sebab, Ayahku ingin agar aku segera menikah denganmu. Kalaulah aku menikah denganmu dan setelah itu kau pergi demi studymu, pasti ayahku tidak ridho. Sebab ayahku ingin segera menikahkanku agar ada sosok yang dapat menemani dan menjagaku.
Sejenak kita saling diam, saling menyapa lewat sorot mata. Kulihat matamu mulai basah bergantian dengan hatiku yang sudah gundah gulana. Sesekali kau melempar batu kecil-kecil ke dalam kolam yang berada di depan kita.
“Cinta kita tengah diuji. Namun jika kau ingin melanjutkan studymu, kupersilahkan. Namun jika kau kembali dan melihatku telah bersama yang lain, jangan salahkan aku atau jangan salahkan siapapun” jawabku tegas.
“Maksudmu?” jawabmu begitu polos.
“Kau ingin menikah dengan yang lain?” tanyamu dengan tatapan tajam padaku. Seketika aku menyesal dengan jawabanku tadi. Sejujurnya aku hanya sedekar menggertak dan menggurutu.
Sampai akhirnya senja datang menghampiri. Aku dan kau pun lekas pulang.
Di tengah perjalananku dengar sayup-sayup suara adzan. Kuputuskan untuk singgah ke masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba.
“Ya Rabb, Engkau sebaik-baiknya pengatur skenario. Kuserahkan semua padamu ya Kariim. Sungguh, aku hanya hamba-Mu yang lemah, tak punya daya dan upaya sedikitpun untuk menjengkali takdir-Mu” doaku kepada Allah.
Sebulan tak ada kabar darimu, aku merasa cemas. Tapi, ahh.. Ya sudah lah. Mungkin kau sudah terbang ke negara yang kau tuju untuk melanjutkan studymu. Huuuu.. Aku menghela nafas untuk kemudian mulai merebahkan tubuh ke atas renjang.
Tiba-tiba ponselku berdering tanda ada pesan masuk. Kuraih ponselku dan kulihat itu pesan darimu. Ah mungkin isinya hanya pemberitahuan bahwa kau akan berangkat. Pikirku begitu singkat, hingga aku pun tak membaca pesan itu dan meletakkan kembali ponselku ke atas meja. Kemudian aku kembali merebahkan tubuh untuk sejenak menenangkan hati dan pikiran. Namun tiba-tiba kudengar suara lelaki memanggilku dari luar pintu kamar.
“Dinda.. Din.. Kau sudah tidur, nak?”
Aku tahu itu pasti ayah. Aku pun segera bangkit dari ranjang dan bergegas ke luar kamar untuk menemui ayah. Ayah mengajakku untuk ngobrol di ruang tamu.
“Nak, bagaimana rencana pernikahanmu dengan dia?” tanya ayah padaku.
Pertanyaan yang membuatku terperanjat. Jantungku berdegup tak keruan. Aku bingung harus memberi jawaban apa.
“Ayah, kok pertanyaannya kayak gitu sih. Ini kan udah malam, Yah. Lebih baik kita tidur aja ya Yah” kataku membujuk ayah agar ayah tidak membahas soal pernikahan ini. Akhirnya ayah menyuruhku untuk tidur. Aku langsung bergegas menuju kamar.
Ketika aku sudah memasuki kamar, kulihat ponselku kembali berdering pertanda ada pesan masuk. Kulihat lagi-lagi pesan itu dari kau. Aku menghela nafas, dan kali ini aku buka ternyata pesan itu berisi membatalkan studymu demi menikah denganku dan keputusan itu atas persejutuan ayahmu. Aku sangat senang sekali.
Tiga hari kemudian kau dan keluargamu datang untuk mengkhitbahku. Akhirnya kau dan aku menikah juga.

aku yang terlambat

Sama sepertimu, aku juga hanyalah seorang hamba yang hidup di bawah langit sang Illahi dan di atas tanah sang kholid.
Sama sepertimu, aku juga hanyalah seorang insan yang dianugerahi cinta. Cinta kepada Rabb ku dan cinta kepada ciptaan-Nya. Dalam ruang cinta kepada ciptaan-Nya, dia masuk dalam kategori.
Haura namanya, seorang akhwat yang baru kutahu namanya 3 bulan yang lalu. Namun sudah aku kagumi sejak 1 tahun yang lalu. Kali pertama aku melihatnya berada di depan gerbang sebuah panti asuhan. Entah apa dan sedang apa ia disitu. Aku tak tahu. Dan kulihat kakinya mulai memasuki halaman panti. Aduhai, sungguh indah nan anggun sekali ia. Kerudungnya yang panjang yang membalut auratnya sungguh sangat mempesona. Rasanya ingin bertaaruf dengannya untuk kemudian langsung menikah dengannya.
“Ah, sudahlah” kataku mencoba menepis rasa yang ada. Hari demi hari, setiap kali aku melewati panti asuhan itu, ia selalu ada disana. Dan sesekali mobilku berhenti sejenak di depan panti itu saat kulihat ia berada disana bersama anak-anak panti. Sesekali juga aku curi-curi pandang. Dan saat aku kepergok saat sedang memerhatikannya, jantungku langsung berdegup kecang sekali dan langsung kulajukan mobilku meninggalkan tempat itu.
Dunia begitu sempitnya, suatu hari aku singgah di sebuah masjid saat kudengar sayup-sayup adzan zuhur mulai berkumandang. Aduhai, bak rezeki. Aku bertemu dengan Haura di masjid itu. Kulihat dia sedang memakai sepatu dan sepertinya ia akan beranjak pergi meninggalkan masjid ini. Aku pun langsung bergegas melaksanakan sholat zuhur. Dan selepas aku melaksanakan sholat zuhur, kulihat ia masih duduk-duduk di depan masjid itu. Kulihat dia duduk bersama dua akhwat lainnya. Seperti sedang membicarakan sesuatu. Tak lama kemudian, kulihat mereka bertiga berjalan menuju suatu tempat. Kuikuti ia bersama dua rekannya itu. Dan aku sangat terperanjat saat ketika langkah mereka terhenti di sebuah panti asuhan tempat pertama kalinya aku melihat Haura.
Sudah hampir setahun aku terus memerhatikan dan memantau kegiatannya tanpa mengetahui siapa namanya.
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk datang ke panti itu. Kulihat beberapa anak yang sedang asyik bermain. Kutemui mereka dan mulai kuajukan pertanyaan sederhana kepada mereka.
“Assalamualaikum adik” sapa ku pada mereka.
“Waalaikumsalam kak” jawab mereka kompak.
“Dik, perempuan yang cantik yang selalu mengunjungi panti ini siapa ya?”
“Oh, itu mbak Haura kak. Dia dulu dibesarkan di panti ini. Jadi setiap hari kak Haura datang kemari entah untuk sekedar silahturahmi atau menyantuni kami kak” jawab salah seorang anak.
“Ohh.. Ternyata namanya Haura”. Kataku.
Hari demi hari pun berlangsung begitu cepatnya. Kali ini kulihat ia duduk berdua di atas roda dua bersama seorang ihwan.. “siapa dia?” tanya ku dalam hati. “Ah mungkin itu saudaranya atau jangan jangan… ah sudahlah.. Mana mungkin dia sudah menikah”. Kataku sambil tertawa kecil.
Beberapa hari kemudian, kulihat ia sedang duduk sendiri di depan sebuah masjid seperti sedang menunggu seseorang. Dan aku mulai memaksa diriku untuk berani menemuinya sekedar menanyakan alamatnya untuk kemudian dapat menemui orangtuanya.
Dan akhirnya langkahku terhenti tepat di depannya. Kita berjarak kira-kira 1 m. Dan aku mulai menyapanya dengan salam. Dia menjawab salamku dengan lembut sekali. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika kulihat telah melingkar cincin di jari manisnya. Kumencoba bertanya sedang apa ia disini. Sebuah jawaban yang sangat pahit keluar dari mulutnya.
“Saya sedang menunggu dijemput suami saya mas” jawabnya lembut namun menyakitkan aku.
“Anti sudah berapa lama menikah?”
“Baru seminggu mas” jawabnya singkat.
Akhirnya aku langsung pamit untuk langsung pulang ke rumah membawa sejuta perih.
“Seharusnya aku lebih cepat menemuinya, seharusnya aku tidak menunda-nunda waktu untuk mengenalnya. Yaa Rabb.. Terlambatlah sudah aku untuk dapat memilikinya. Alangkah beruntungnya pria itu mendapatkan kekasih seperti Haura”. Sesalku mendalam.
Nb: terkadang kita takut mengungkapkan rasa kepada seseorang yang kita sukai. Dan kita menunda-nundanya karena merasa belum siap. Tanpa kita sadari, diluar sana banyak juga yang memendam rasa kepada orang yang kita sukai. Maka segeralah ungkapkan rasa itu sebelum terlambat dan akhirnya hanya sebuah penyesalan yang didapat.

cinta yang semu

“Cinta itu buta”
“Cinta itu indah”
“Cinta itu menyenangkan”
Begitulah pendapat sebagian orang tentang cinta. CINTA, satu kata yang terdiri atas lima susunan alfabet ini sukses membutakan mataku. Bahkan bukan hanya mataku, namun juga hatiku.
Indah memang, menyenangkan memang. Tapi siapa sangka bila cinta yang tidak didasarkan atas nama Lillah hanya akan mengundang sakit yang begitu menyiksa.
Yogi namanya. Pria yang kukenal saat pertama kali aku memasuki dunia SMA. Seorang pria yang tampan, berperawakan tinggi nan tegap, berhidung mancung, dan memiliki sepasang bola mata yang berwarna coklat tua. Itulah sebabnya ia sangat dikagumi oleh banyak wanita di sekolahku. Salah satunya adalah Nozya. Teman satu kelasku yang dikabari tengah dekat dengan Yogi. Nozya memiliki kulit yang putih, rambut yang panjang, bibir mungil dan mata sipit. Karena ia blasteran Indonesia China.
Hari itu bel sekolah berbunyi. Bukan pertanda masuk kelas atau jam istirahat, namun bel itu menandakan bahwa waktu pulang sekolah sudah tiba. Aku langsung bergegas merapikan buku-buku pelajaranku untuk kemudian langsung menyusunkan ke dalam ranselku dan setelah itu aku langsung menuju parkiran sepeda motor di sekolahku.
Beberapa meter sebelum aku sampai di parkiran, kulihat Nozya dan Yogi tengah berbincang-bincang. Aku tak menghentikan langkahku dan aku tetap melanjutkan langkahku. Sepeda motorku yang parkir tepat di sebelah sepeda motor Yogi membuat aku tak sengaja mendengar perbincangan mereka.
“Yogi, pulang bareng ya” kata Nozya. Kulihat dan kudengar ia tengah memelas pada Yogi sambil menggenggam kedua tangan Yogi.
“Apaan sih kamu pegang-pegang tanganku” jawab Yogi dengan nada agak arogan sembari melepaskan genggaman Nozya.
Hanya itu yang aku dengar, karena aku langsung men-starter sepeda motorku untuk langsung pulang ke rumah.
Sesampainya aku di rumah, kejadian di parkiran tadi terngiang-ngiang di otakku. Apa mereka pacaran? Ah mungkin benar mereka pacaran. Tapi kalau mereka pacaran kenapa tadi Yogi kasar banget ya sama Nozya. Kataku sambil membayangkan wajah Yogi.
“Duh kenapa aku jadi kepo gini sih? Kalau mereka pacaran, apa urusannya denganku” gumamku sambil mulai membuka toples kue yang terletak di atas meja ruang tamuku. Aku memang suka ngemil, namun walaupun aku suka ngemil, aku bukan gadis yang gemuk kok. Berat ku hanya 50 kg, tinggi ku 150 cm. Cukup ideal kan?
Pagi itu aku berangkat sekolah agak kesiangan karena mama juga kesiangan. Wajar saja, aku ini anak mami banget, kalau nggak dibangunin ya nggak bangun-bangun. Di tengah perjalanan ban sepeda motor aku bocor.
“Ahk sial!!! Sudah kesiangan, pake acara bocor pula ban ini. Bikin repot aja” gumamku sambil menendang ban motorku itu. Aku mendorong sepeda motorku sambil mencari bengkel motor. Belum ada 1 meter aku mendorong, tiba-tiba kudengar ada sepeda motor yang berhenti di belakangku. Mungkin orang iseng yang mau ngeledeki aku. Pikirku.
“Lirza?” suara dari pengendara motor yang tiba-tiba berhenti di belakangku. Aku pun langsung menoleh ke belakang. Dan kulihat seorang pria yang mengenakan helm berwarna putih dan memakai masker hitam. Aku tanda dengan sepeda motor yang dinaikinya. Yogi, batinku berkata seperti itu. Namun aku belum yakin karena belum melihat wajanya.
“Ini sudah pukul 07.25, 5 menit lagi bel dan gerbang sekolah akan segera ditutup. Ban kamu bocor, lebih baik ayok pergi bareng aku aja” kata Yogi menawarkan tumpangan untukku dan sambil membuka helm dan maskernya sehingga aku tau itu Yogi.
“Tapi motorku gimana? Masa iya aku tinggal disini? Ntar kalau hilang gimana?” tanyaku sambil berharap ia memberi solusi.
“Kunci stang aja, terus kamu titipi di depan rumah orang itu” kata Yogi sambil menunjuk sebuah rumah berwarna merah muda itu. Aku pun mengikuti sarannya. Dan aku mulai menaiki sepeda motornya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, baru kali ini aku dibonceng cowok. Deg-degan rasanya. Apalagi yang bonceng cowok ganteng kayak Yogi. Karena waktu bel sekolah nyaris akan berbunyi, Yogi pun tancap gas motornya. Aku yang diboncengnya pun sangat ketakutan.
“Lir, pegangan aku aja kalau takut jatuh” pinta Yogi.
Aku pun langsung melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.
Akhirnya kami sampai di sekolah dan pintu gerbang sekolah nyaris akan ditutup oleh pak Satpam. Tak kusangka, ternyata Nozya melihatku dibonceng oleh Yogi. Kulihat mata Nozya yang sipit tiba-tiba melotot lebar. Pipinya yang putih menjadi merah pertanda marah. Aku ketakutan, kukira ia akan marah padaku, namun dugaanku salah. Ia marah kepada Yogi. Aku tak ingin mendengarkan pertikaian mereka dan aku pun langsung lari masuk ke dalam kelas.
Hari demi hari berlangsung dengan cepat. Aku pun tamat SMA. bukan hanya aku, namun juga Yogi dan Nozya. Sekarang aku telah menjadi seorang mahasiswi di suatu perguruan tinggi negeri. Terkadang, dalam kesendirian, aku suka membayangkan dan mengingat masa-masa putih abu-abuku. Dan ketika aku mengingat masa-masa itu, bayangan wajah Yogi lah yang nyaris menyita perhatianku. Apa aku merindukannya? Atau jangan-jangan aku menyukainya. Takdir begitu baik padaku, hingga suatu hari ketika aku sedang asyik shopping di mall, aku bertemu dengan Yogi. Singkat cerita, aku dan dia pun sering ketemuan entah untuk ngedate atau sekedar refreshing saja. Dan akhirnya kita jadian. Yaapppsss. Kami pacaran.
Sebagaimana itu adalah hubungan yang dilarang oleh Allah. Maka ada saja yang tidak mengenakkan hati. 2 bulan pertama romantis nan harmonis bak pasangan yang telah menikah. 3 bulan kemudian mulai terekam cerita-cerita sedih nan mengikis hati. Sampai saat hari dimana anniversary kami yang ke satu tahun. Kisah tragis pun terjadi. Ia selingkuh. Aduhai.. Sakit sekali rasanya. Sepertinya tak ada guna lagi hidup ini. Dan aku mengeluh. Hampir 6 bulan aku tak bisa move on. Dan kuputuskan untuk bercerita dengan sahabatku. Akhirnya sahabatku pun memberikan solusi agar aku coba ikut acara-acara kajian keislaman. Dan kucoba mengikuti acara-acara pengajian seperti yang dipintakan oleh sahabatku.
Dan Alhamdulillah…

kau kah itu?

“Oke, waktu kalian tiga menit untuk menghafal semua kata ini dari sekarang” Nafisa memberikan penjelasan kepada anak-anak yang tengah duduk di hadapannya. Sesekali dirinya melirik ke arah teriknya matahari. Memastikan bahwa anak-anak ini tidak akan kepanasan. Sesekali juga dirinya melihat ke arah bisingnya suara klakson kendaraan. Begitu bising. Panas. Dirinya merasa seperti ikan asin yang tengah dijemur. Sudah tidak ada lagi tempat teduh untuknya. Karena tempat teduh itu hanya cukup untuk anak-anak.
Nafisa memandangi anak-anak itu. Mereka begitu bersemangat untuk belajar. Suara bising klakson bahkan panas mataharipun tidak akan menyurutkan semangat mereka. Meskipun langit dan rumput tamanlah sekolah bagi mereka. Namun senyum dan tawa mereka tetap merekah. Nafisa masih ingat betul bagaimana sulitnya dulu ia meyakinkan anak-anak itu tentang pentingnya belajar. Mendapat celaan. Namun kini mereka berkumpul. Belajar bersama. Meski mereka tetap menjalani hidup mereka sebagai anak jalanan. Mengamen. Menjajakan Koran. Namun tetap mendapakan hak mereka sebagai anak Indonesia. Pendidikan. Dan hari ini dirinya tidak akan menyerah oleh sang surya.
Nafisa melihat ke arah jam tangannya. Tiga menit sudah berlalu. “Oke semuanya, waktunya sudah habis. Sekarang siapa yang mau maju duluan untuk menghafal?” tanya Nafisa pada anak-anak itu. Dirinya menunggu sebuah jawaban. Namun mereka diam. Hening. Berharap akan ada suara yang mengajukan diri. Namun tidak ada. “Baiklah, kakak akan menunjuk satu di antara kalian untuk maju”
“Jangan kak!” akhirnya sebuah suara terdengar. Seorang bocah laki-laki dekil yang duduk tepat di depannya. “Jangan kak! Kita belum hafal. Lebih baik kita hafalinnya bareng-bareng aja”, pinta bocah itu pada Nafisa.
“Waktu tiga menit masak kalian belum hafal sih. Ya udah kakak beri tambahan…” Ponselnya tiba-tiba berdering. Dering ponsel dalam saku roknya memotong pembicaraannya. Tangannya langsung meraih ponsel dalam saku roknya. Sebuah panggilan bertuliskan “BOSS” tertera di layar ponselnya. Nafisa langsung berjalan beberapa langkah. Menjauh beberapa meter dari anak-anak itu.
Ada apa Bu Arini menelpon. Adakah sesuatu? Bukankah aku sudah mengatakan untuk mengambil cuti selama seminggu. Pikirnya dalam hati.
Segera Nafisa menjawab telepon itu. “Halo. Assalamualaikum Bu…”
“Halo. Waalaikumsalam Nafisa. Kamu pasti bingung kenapa saya menelepon kamu. Begini ada seorang fotografer dari Jerman yang datang ke Indonesia. Dan pihaknya meminta kita mencarikan guide untuknya. Jadi terus terang saja, saya ingin kamu kerja lagi. Jangan ambil cuti” potong sebuah suara dari seorang wanita yang berada di seberang teleponnya. Berbicara panjang lebar tanpa jeda.
Nafisa terdiam. Guide lagi? Tanyanya dalam hati. “Maksudnya saya yang jadi guide untuk fotografer itu?” jawabnya setelah dirinya diam sejenak.
“Yup”, sebuah jawaban singkat dan tegas dari wanita itu.
“Tapi saya sudah meminta ijin untuk cuti dan…”
“Saya tahu. Tapi perusahaan kita sudah terlanjur terikat kontrak dengan pihaknya. Dan hanya kamu guide yang cocok dengan kriteria yang mereka ajukan. Jadi saya ingin kamu yang menjadi guide untuknya. Saya tidak ingin mendengar kata tapi lagi. Saya akan segera mengirimkan biodata dan foto dari fotografer itu. Nafisa saya harap kamu bisa mengerti. Oh iya, sebaiknya kamu harus bersiap hari ini. Karena besok pekerjaan kamu dimulai. Dan satu lagi, dia seorang laki-laki. Assalamualaikum” potong wanita itu lagi. Menjelaskan dengan panjang lebar. Tanpa jeda. Dan langsung menutup teleponnya.
“Waalaikumsalam” hanya kata itu yang sempat Nafisa ucapkan sesaat setelah wanita itu menutup teleponnya.
Apa? Laki-laki? Menjadi guide untuk turis laki-laki? Tanyanya dalam hati. Dirinya bingung setelah mendengar penjelasan terakhir dari Bu Arini. Kata laki-laki membuat dirinya terdiam. Berpikir. Bagaimana mungkin? Bukankah perjanjianku hanya menjadi guide khusus turis perempuan? Tapi kenapa laki-laki diserahkan padaku? Nafisa terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Ttttiiiiinnn!!!! Suara klakson mobil yang begitu keras mengejutkan Nafisa. Dirinya terperangah. Sadar bahwa sedari tadi dia hanya diam berdiri tanpa arah.
Nafisa kembali menuju anak-anak. Langkahnya begitu berat. Entahlah. Nafisa merasa dirinya harus mengatakan hal yang sulit.
“Maaf. Tadi lama ya”, ucapannya begitu berat. “Tadi sampe mana? Oh iya, kakak akan memberikan waktu dua menit lagi untuk kalian menghafal semua kata ini” lanjutnya.
Nafisa terdiam. Dirinya memandangi anak-anak itu. Keseriusan mereka dalam belajar membuat Nafisa berat hati untuk membatalkan janjinya dengan mereka. Entah kata apa yang tepat yang harus dia ucapkan kepada anak-anak itu nantinya.
Nafisa merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Rasanya begitu nyaman. Matanya memandang ke langit-langit atap kamarnya. Wajahnya terlihat sedang memikirkan suatu hal. Memikirkan anak-anak itu. Ada dua tanggung jawab yang ada di pundaknya saat ini. Mereka. Dan pekerjaannya. Dan hari ini, entah sudah kali keberapa dirinya harus mengecewakan mereka. Mengingkari janji yang telah dia buat dengan anak-anak itu. Sebuah janji untuk mengajari mereka selama seminggu penuh. Dan wajah kekecawaan dari anak-anak itu telah membayangi pikiran Nafisa saat ini.
Line. Bunyi ponsel Nafisa menghentikan lamunannya. Dirinya langsung meraih ponsel yang ada di dekatnya. Sebuah pesan dari sebuah nama yang bertuliskan “BOSS” tertera di layar ponselnya. Nafisa segera membuka pesan itu.
“Ini biodata dan fotonya. Fotografer itu hanya akan mengunjungi dua tempat. Bromo dan Karimunjawa. Perjalanan kamu akan dimulai besok. Saya harap kamu bisa menjadi guide yang baik untuknya.” Itulah isi pesan singkat bossnya, Bu Arini.
Sebenarnya Nafisa enggan untuk menerima tawaran ini. Namun itu adalah pekerjaannya. Tanggung jawabnya. Dan dengan berat hati dia mengiyakan tawaran ini.
“Iya, terimakasih Bu Arini”. Begitulah Nafisa membalas pesan itu. Nafisa tidak ingin menanyakan kenapa harus dirinya. Karena dia tidak ingin berdebat dengan wanita yang telah banyak membantunya.
Segera Nafisa membuka foto turis pria itu. Foto apa ini? Hanya foto pemandangan pegunungan dengan hamparan padang rumput luas dan seorang pria berdiri dengan memalingkan wajahnya sambil membawa kamera? Bahkan wajahnya pun tidak terlihat jelas. Bagaimana aku bisa menemui pria ini? Celotehnya dalam hati. Kemudian Nafisa pun membuka biodata turis pria itu.
Name/age: Alex Anderson/24 years old
From: Germany. Photographer for nature.
Seketika Nafisa terkejut. Alex Anderson? 24 tahun? Tanyanya dalam hati. Sekilas nama itu mengingatkannya pada seorang laki-laki. Seseorang yang pernah dia temui beberapa tahun lalu. Tepatnya seseorang yang pernah dia kenal lewat sosial media. Seseorang yang pernah menempati ruang di hati Nafisa. Namun, laki-laki itu telah menghilang dari ketidaktahuannya. Dan dirinya selalu bertanya-tanya. Karena setelah itu, Nafisa tidak lagi bisa menemukannya di sosial media manapun.
Nafisa kembali membuka foto turis pria itu. Nama dan usia yang sama. Jerman? Sedangkan dia dari Amerika bukan Jerman. Tapi, kau kah itu? Tidak mungkin! Begitu banyak laki-laki yang bernama Alex Anderson di dunia ini. Mana mungkin takdir akan membawanya kepadaku dan juga sebaliknya. Pikirnya. Konflik batin yang dialaminya saat ini membuatnya terus berpikir. Berulang kali dirinya mencoba untuk mengenali wajah pria dalam foto itu. Namun, tetap saja tidak bisa. Karena wajah pria itu tidak terlihat jelas. Atau bahkan memang tidak jelas.
Tidak! Kenapa aku teringat lagi olehnya. Astaghfirullah Nafisa! Nafisa menghempaskan ponselnya ke tempat tidur. Dirinya tersadar. Mencoba membenahi pikirannya dan juga perasaannya.
Suara azan maghrib menyadarkan Nafisa. Dia pun langsung ke luar dari kamarnya untuk mengambil air wudhu. Kemudian Nafisa segera mendirikan salat.
Setelah melaksanakan salat, Nafisa memanjatkan doa. Tangannya menengadah. Tanpa sadar dia mendapati air matanya telah membasahi pipinya. Dirinya menangis.
‘Wahai dzat yang Maha membolak-balikan hati. Jika sekiranya dia tidak ditakdirkan untukku, dan aku tidak pula untuknya, maka jauhkanlah diriku dari memikirkannya dan jauhkanlah dirinya dari memikiranku’. Doanya dalam hati. Dirinya merasa telah melakukan sebuah dosa. Memikirkan seseorang yang tak seharusnya dia pikirkan. Dan itu adalah zina baginya. Zina hati.
Nafisa terus menangis. Menangis di atas sajadahnya. Sampai akhirnya dia menutup matanya. Dan terlelap tidur di atas sajadahnya.